Tsaqofah

Teknik Tipu Daya Setan

Iblis tahu betul karakter manusia dan dimana titik lemahnya. Wajar, saat minta ditangguhkan ajalnya, dan Alloh mengabulkannya maka ia habiskan umur panjangnya hanyalah menyesatkan manusia.  Pastinya ia sangat ekspert dalam hal sesat menyesatkan.

Diapun tahu betul tidak mungkin ia mendatangi manusia dengan mengatakan: “Ayo tinggalkan perintah Alloh ini!” tidak pula mengatakan: “Ayo terjang larangan Alloh itu!”, atau kemudian dia berkata: “Niscaya kalian akan celaka dan masuk neraka”. Sebab bila setan melakukan yang demikian tentu tidak ada seorangpun yang akan mengikutinya. Namun setan akan menempuh berbagai cara untuk memperdaya hamba-hamba Alloh.

Menghiasi Kebatilan

Inilah cara yang selalu digunakan setan untuk menyesatkan manusia. Setan memperlihatkan kebatilan dalam kemasan kebenaran, sebaliknya memperlihatkan kebenaran dalam wajah yang menyeramkan. Tentang ini Allah Ta’ala mengabadikan ucapan iblis: 

Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiyat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya… (Al Hijr: 39).

Ya, muslihat setan terhadap manusia adalah membuat kebathilan menjadi indah, menamai perbuatan maksiat dengan nama yang memikat. Sebagaimana Iblis menamai pohon terlarang dengan Syajaratul Khuldi (Pohon Keabadian), Alloh Ta’ala berfirman:

Kemudian syetan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: Hai Adam, maukah saya tunjukkan  kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa  (Thaha: 120)

Ibnu Qoyyim berpendapat, bahwa dari sanalah para pengikut dan penolong-penolong setan yang ada sekarang mengadop metode ini. Menamai hal-hal yang haram dengan nama yang indah lagi disukai. Mereka menamakan curang dengan ‘strategi marketing’, mereka menamakan riba dengan ‘balas jasa’, mereka mengatakan ‘tarian erotis’ dengan ‘Kebebasan berekspresi’, mereka menyebut pornoaksi dan pornografi dengan ‘Seni’. Dan berbagai propaganda lain yang menyesatkan.

Alloh Ta’ala berfirman:

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk) (QS An Nahl: 63)

Mencoreng Wajah Kebenaran

Sebaliknya Syetan menamai berbagai amal ketaatan dan pelakunya dengan sebutan yang buruk dan menyeramkan, sehingga manusia menjauhinya. Orang yang komitmen dengan agamanya justru disebut ‘saklek’, sementara orang yang ‘plin-plan’ justru disebut ‘bijak’. Bagaimana orang yang amar maruf nahi munkar malah disebut ‘radikal’, sementara diam, sepakat dengan kemungkaran disebut moderat dan toleran. Sungguh muslihat yang dahsyat.

Dalam khasanah sejarah hal demikian sudah terjadi, dimana setan dan pengikutnya menyebut para nabi dengan julukan-julukan yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Mereka berkata, Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama (Thaha: 63)

Demikian pula rosul-rosul selanjutnya termasuk Nabi Muhammad saw disebut sebagai tukang sihir, ahli perdukunan, tukang syair, terkena sihir, orang gila atau nama-nama buruk lainnya. Dan ini akan terus berlaku hingga hari kiamat, pengikut setia para nabi, akan mendapat julukan-julukan yang buruk hingga manusia takut dan menjauhinya.

Ifrath Tafrith

Setan tahu betul dari pintu mana harus mendatangi seorang hamba. Jika di dapatinya si hamba sering menunda-nunda ibadah, memandang enteng perintah Alloh, maka setan akan mengendurkan semangatnya, membuatnya malas, memunculkan angan kosong. Hingga akhirnya si hamba tadi tidak cuma malas bahkan meninggalkan semua perintah sekaligus. Maka hamba tadi terjebak kedalam tafrith (menyepelekan) perintah Alloh.

Sebaliknya bila didapati si hamba orang yang semangat, penuh kehati-hatian, bersungguh-sungguh maka setan akan kian menyemangati dirinya hingga ia melampaui batas, berlebih-lebihan dalam ibadah. Qiyamul lail hingga tidak pernah tidur, selalu berpuasa sepanjang hari, wudhu tidak cukup membasuh tiga kali dan sebagainya. Maka dia terjatuh dalam tafrith (berlebih-lebihan).

Menyesatkan manusia secara bertahap

Hasan Bin Shalih Rahimahulloh berkata:

Terkadang setan membukakan 99 pintu kebaikan untuk menjebak manusia kedalam satu keburukan.

Sungguh ini perkara halus yang jarang disadari oleh manusia, bagaimana iblis memudahkan seseorang dalam kebaikan tetapi kebinasaan yang dikehendakinya.

Tentang ini, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya meriwayatkan kisah menarik tentang seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil (dalam satu riwayat bernama Barshisha) yang mati dalam kekafiran.

Dikisahkan ada seorang rahib yang beribadah selama 60 tahun. Lalu setan bermaksud untuk menggodanya, dengan berbagai muslihat dan tipu dayanya. Bermula setan mendekati seorang wanita dan membuat wanita itu menjadi gila, sedangkan wanita itu memiliki banyak saudara laki-laki. Kemudian setan berkata kepada saudara laki-laki perempuan itu: “Pergilah kamu kepada pendeta ini, dialah yang bisa mengobati adikmu.” Lalu mereka datang dengan membawa saudari perempuannya kepada rahib tersebut. Maka rahibpun mengobati dan merawat di dalam rumahnya.

Syahdan, hingga pada suatu hari ketika si rahib sedang sendirian bersama pasiennya, tiba-tiba ia terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, akhirnya ia terjatuh pada perbuat keji yaitu zina, hingga sang wanitapun mengandung. Sang rahib tidak ingin perbuatannya terungkap, maka setan membisiki agar membunuh wanita tersebut untuk menutupi rasa malunya. Dan ia pun membunuhnya..

Tidak lama kemudian saudara-saudarnya datang, dan setelah mengetahui bahwa adiknya telah dibunuh maka mereka hendak mengadukan rahib kepada raja. Maka setan berkata kepada si rahib: “Sesungguhnya akulah yang menjerumuskan dirimu dalam perkara ini, dan tidak ada yang bisa menyelamatkan dirimu kecuali aku. Sekarang, bersujudlah kepadaku, maka aku akan menolongmu!” Akhirnya Sang rahib bersujud. Setelah bersujud, setan pergi menghilang dan Sang Rahib disalib.

Alloh Ta’ala berfirman:

seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu…(QS Al Hasyr: 16)

Waspadalah!

Inilah diantara bentuk tipu daya syetan, hendaknya seorang mukmin senantiasa waspada! Wallohua’lam.

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close