Ibrah

Sebab sebab Su’ul Khotimah

 

“Sekali-kali jangan, apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, dan dia yakin bahwa sesungguhnya Itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau” 
(QS. Al Qiyamah : 26-30)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: ayat-ayat ini menceritakan keadaan saat seseorang meregang nyawa dan hal-hal mengerikan yang terjadi didalamnya. Dimulai dengan kata ‘kalla’ (sekali-kali jangan) maksudnya “Hai anak Adam apakah engkau masih mendustakan, bukankah engkau melihatnya sendiri” saat nafas telah sampai di tenggorokan?

Di saat itu dokter mana yang bisa menyembuhkan? Dukun mana yang mampu mengobati? Kedua betis, yang sebelumnya dengannya ia banyak berjalan, kini telah mati rasa tidak mampu lagi menjadi tumpuan badan. Ditautkan betis kiri dan betis kanan. Kepada Tuhannya ia akan dikembalikan dan dipulangkan… 

Iblis Mencuri Kesempatan

Saat badan di puncak kelemahan, di saat semua urat syaraf menegang kesakitan, dan di saat akal tidak mampu lagi memikirkan, ternyata setan justru mengambil kesempatan. Baginya inilah kesempatan terakhir untuk menyesatkan. Ia-pun kerahkan segala daya upayanya agar bani Adam berguncang imannya. Targetnya, bagaimana anak Adam mengakhiri hidupnya dalam keburukan.

Sebagaimana dikatakan Abu Al Hasan Al Qabisi dalam kitabnya Syarh Risalah Ibnu Abu Zaid: diriwayatkan bahwa seorang hamba tatkala hampir tiba ajalnya, datanglah dua syetan yang duduk di sisi kepalanya. Yang satu berada di sebelah kanannya yang menyerupai ayahandanya, seraya berkata:

Wahai anakku, sesungguhnya aku sangat menyayangimu dan mencintaimu, maka matilah kamu dengan beragama Nashrani, karena Nashrani adalah agama yang lebih baik!

Sedang setan yang disebelah kiri berkata:

Wahai anakku, betapa payahnya aku mengandungmu, aku begadang dimalam hari menyusuimu, penatnya punggungku menggendongmu. Maka matilah kamu dengan beragama Yahudi karena Yahudi adalah agama yang lebih baik!

Ilustrasi diatas tentu hanya salah satu diantara metode iblis menyesatkan anak Adam di ujung hidupnya. Yang jelas berbagai cara dan tipu daya asal anak Adam su’ul khotimah atau bahkan mati di atas cabang kekufuran. Na’udzubillahi min dzalik

Su’ul Khotimah

Sakitnya al maut ditambah talbis (tipu daya) iblis tampaknya menjadi faktor penyebab goncangnya iman seorang muslim. Hingga sekedar mengucap kalimat pendek ‘laa ilaaha illalloh’, ternyata hanya segelintir orang saja yang mampu melafazdkan di akhir hidupnya. Bahkan, tidak sedikit orang meninggal justru saat tengah bergelimang dalam dosa & maksiyat. Inilah su’ul khotimah (akhir yang buruk).

Saudaraku, su’ul khotimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqomah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqod (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.

Tidak istiqomah lahir dan batin

Mampu beramal besar adalah karunia yang luar biasa. Tetapi mampu istiqomah, tentu karunia yang lebih besar lagi. Faktanya iman naik turun, banyak faktor yang mempengaruhinya. Kadang semangat, kadang kendor. Hingga terkadang tidak cuma intensitas dan kualitas ibadah menurun bahkan terkadang ditimpa futur (berhenti beramal) setelah sebelumnya bersemangat.

Bila ajal datangnya tak terduga, lalu bagaimana bila seseorang dicabut nyawanya sementara ia tengah futur. Tengah tenggelam dalam kelalaian, sibuk dengan dunia, bosan, jenuh dan lelah dengan jalan perjuangan yang berliku, terjal, penuh dengan hambatan dan rintangan. Tentu ia berada dalam kerugian karena ia mengakhiri hidupnya dalam keburukan.

Sementara tuntutan istiqomah tidak cuma dari sisi dhohir saja, kita dituntut istiqomah lahir dan bathin. Istiqomah bathin yaitu senantiasa meluruskan niat bahwa segala aktivitasnya semata untuk mencari wajahNya. Tanpanya amal hanya kesia-siaan, lelah tanpa balasan.

Berapa banyak orang yang mampu melazimi amal besar, tetapi saat meregang nyawa seakan sedemikian sulit untuk mengucap kalimat tauhid. Bisa jadi selama ini ia mampu istiqomah lahirnya tetapi tidak mampu istiqomah bathinnya. Amalnya hanyalah untuk mencari sanjungan, shodaqohnya hanya untuk mencari pujian, hajinya hanya untuk mendongkrak status sosialnya, dan dakwahnya hanya untuk mencari popularitas.

Maka seorang hamba dituntut istiqomah lahirnya dan istiqomah bathinnya. Hingga ujung hindupnya adalah puncak amalnya, puncak imannya. Dan hari terbaiknya adalah hari berjumpa denganNya.

Aqidahnya rusak

Jika ada seorang muslim ragu akan kebenaran islam, menganggap semua agama benar (Pluralisme), berkeyakinan bahwa agama tidak boleh mengatur urusan dunia (skularisme), atau berkeyakinan bahwa semua orang berhak menafsirkan Al Qur’an semaunya (liberalisme) maka ia dalam posisi rusak aqidahnya.

Termasuk rusaknya aqidah adalah bila keimanan seseorang bercampur dengan kesyirikan, menolak hukum Alloh, mengingkari syari’atNya, memusuhi penolong-penolongNya, dan loyal terhadap orang kafir. Dan rusaknya aqidah seseorang adalah termasuk sebab terkuat su’ul khatimah, meski ia menghiasi diri dengan sifat zuhud dan kesholehan.

Bergelimang dalam dosa dan maksiat

Sebab lain su’ul khatimah adalah bergelimang dalam dosa dan maksiat. Dosa menyebabkan noda hitam dalam hati seseorang. Bila ia bertobat maka noktah tersebut hilang dan hati kembali mengkilap. Tetapi bila dosa bertambah, maka bintik tersebut bertambah, bertambah, dan bertambah sebanding dengan dosa dan maksiat yang dilakukannya. Semakin bergelimang dalam dosa maka noda makin tebal, menutup hati. Hingga saat sekaratul maut, dosa akan menguasai hati dan akalnya hingga tidak mampu mengingat kalimat thoyibah.

Dan cukuplah seseorang mestinya takut bila saat ajal menjemput justru ia tengah berbuat dosa dan maksiat. Mati saat berzina, mati dalam keadaan mabuk, sekarat sesaat setelah berjudi, dan lain sebagainya. Bukankah ini musibah besar… menjatuhkan martabatnya di dunia dan di akhirat. Naudzubillah

Inilah diantara sebab-sebab su’ul khatimah. Akhirnya, Dialah Alloh dzat yang membolak-balikan hati, dialah Alloh yang menetapkan segala taqdir, maka berlindung kepadanya dari su’ul khatimah termasuk perkara yang sangat dianjurkan. Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close