Puasa

Sakinah di Bulan Ramadhan

Keluarga yang tenteram, penuh cinta dan kasih sayang tampaknya dambaan setiap rumah tangga. Apalah dikata, kadang  yang terjadi justru sebaliknya. Jangankan tenteram, tidak cekcok sepekan saja sudah luar biasa. Jangankan cinta dan kasih sayang, bahkan yang ada pasangan yang tidak pernah mau mengerti, egois, dan selalu ingin menang sendiri. Bahkan tidak sedikit pasangan rumah tangga yang senantiasa diselimuti kedustaan dan kecurigaan, rumah tangganya dihiasi dengan tutur kata yang keji dan kasar,  rumah tangganya selalu diwarnai dengan amarah dan emosi.

Ramadhan (puasa) tampaknya bisa menjadi terapi, hingga apa yang didamba (yaitu keluarga sakinah, mawadah, warahmah) bukan lagi angan tak berkesudahan, tetapi harapan yang bisa diupayakan. Beliau Bersabda:

fitnah seorang laki-laki ada pada keluarganya, hartanya dan tetangganya, dapat dihapus dengan sholat, puasa, dan sodaqoh.” (HR. al-Bukhari).

Ya, ujian bagi seorang laki-laki bisa berupa ujian dalam keluarga (anak dan istri). Keluarga adalah ujian hingga seseorang mestinya mampu membuktikan bahwa kasih sayangnya kepada mereka tidak menjadi penghalang untuk tetap tunduk taat kepada-Nya. Anak dan istri adalah ujian, hingga seseorang mesti tetap bersifat santun dan sabar dalam menghadapi kelemahan dan kekurangannya.

Dan puasa, bisa menjadi kafarat (penghapus) fitnah tersebut. Mengapa demikian? Ya, karena diantara esensi ibadah puasa adalah pengendalian diri dan pengendalian hawa nafsu yang mana itu adalah pondasi keluarga sakinah, mawadah wa rahmah.

Puasa Melatih Kejujuran

Dari semua bentuk ibadah, puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal (private), tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui, apalagi menilainya. Saat orang berpuasa, dia tetap berusaha menghindari makan, minum meski tidak ada orang yang mengetahui/melihatnya. Oleh karena itu, bila dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, nilai yang mestinya muncul dari ibadah puasa adalah kejujuran dan kesetiaan.

Dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang puasanya tidak dapat mencegah dari ucapan dan perbuatan dusta, maka Alloh tidak berhajat dengan dia menahan lapar dan hausnya” (HR. al-Bukhari).

Bila perkara ini dipegang teguh bagi suami-istri saat berpuasa (yaitu menghindari ucapan dan perbuatan dusta) layak bila suasana keluarga di bulan ramadhan terasa lebih tenteram dan nyaman. Suami jujur dengan ucapan dan perbuatannya, istripun demikian, lahirlah khusnudzon yang merupakan sumber ketenangan dan ketentraman.

Puasa Mengendalikan Emosi

Puasa yang benar akan memunculkan karekater taqwa, sebagaimana firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqoroh : 183).

Hakikat taqwa sebagaimana disebutkan oleh para ulama- adalah melakukan semua yang dapat menjaga diri seseorang dari kemarahan dan siksaan Allah Ta’ala dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhkan segala yang dilarang.

Oleh karena itu segala hal yang berseberangan dengan hakikat taqwa tentu dapat mengurangi bahkan bisa merusak pahala dan hikmah puasa itu. Dan diantara karakter orang yang bertaqwa disebutkan di dalam Al Qur’an surat Ali Imron : 134:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Semangat inilah, yang mempengaruhi hingga serasa suasana keluarga di bulan ramadan lebih harmonis dan sakinah.

Dan memang, perkara sepele sering menjadi pemicu problematika dalam rumah tangga. Cekcok besar terkadang bermula dari masalah yamg simpel dan sepele (sayur yang kurang asin/keasinan, tidak sepakat dengan penataan rumah, beda selera tentang warna korden, setrikaan yang kurang rapi, dan lain-lain). Anehnya hal demikian tampaknya bisa diredam selama bulan ramadhan, tutur kata lebih lembut dalam mensikapi perbedaan dan hati lebih lapang untuk menerima kekurangan.

Puasa Melahirkan Santun & Sabar

Kedekatan hubungan antara suami istri, anak dan orang tua tidak jarang memunculkan keberanian untuk bertutur kata kurang santun dan kasar. Kadang hal ini memancing amarah dan emosi hingga tidak jarang ucapan kasar dibalas kasar, ucapan kotor dibalas dengan ucapan kotor, atau tindakan bodah lainnya. Dan bila emosi dibalas emosi juga, alhasil konflik dan pertengkaranpun pasti terjadi.

Ada kalimat pendek yang ringan diucapkan tapi bisa menjadi solusi, saat pasangan mencoba memancing pertengkaran disaat sedang berpuasa, yaitu cukuplah katakan:

“inni shoimun, inni shoimun”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali)’ ”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadist ini Beliau anjurkan untuk tidak meladeni dan membalas celaan, bahkan Beliau menganjurkan agar mencukupkan diri dengan menjawab “aku sedang puasa”. Dan terbukti kalimat ini tidak memperpanjang masalah, dan akan menjadi solusi.

Betapa indahnya bila hal semacal semacam ini tidak cuma muncul di bulan ramadhan saja,  tetapi benar-benar menjadi akhlaq yang melekat dalam kehidupan rumah tangga. Rumah tangga senantiasa dihiasi dengan kesantunan, kelembutan, tutur kata yang halus, sabar dalam mensikapi perbedaan dan kekurangan.

Ramadhan dan kebersamaan

Beraktifitas bersama antara suami dan istri, anak dan orang tua, adalah salah satu faktor yang dapat melahirkan keharmonisan rumah tangga. Hanya sayang kesibukan masing-masing terkadang membuat aktivitas bersama menjadi jarang terlaksana. Dan ramadhan bisa menjadi awal untuk memulainya.

Makan bersama merupakan hal yang sulit dilakukan bila masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Tetapi di bulan ramadhan kesempatan ini terbuka luas, keluarga bisa buka dan sahur bersama, dan ini melahirkan kedekatan, keakraban dan keterbukaan. Belum lagi bila ditambah dengan tadarus quran bersama keluarga, waktu luang diisi dengan silaturahmi bersama anak istri. Subhanalloh semua ini akan melahirkan ketentraman dan ketenangan. Dan ini semua dimudahkan di bulan Ramadhan

Sakinah Di Bulan Barokah

“Jika datang bulan ramadhan pintu jannah di buka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu” (HR. al-Bukhari).

Pintu jannah dibuka maksudnya seseorang dimudahkan untuk melakukan amalan-amalan yang bisa mengantarkannya ke surga. Pintu neraka ditutup artinya kesempatan untuk berbuat dosa dan maksiyat dipersempit. Dan syetan yang kerjaanya menghalangi kebaikan dan merayu untuk berbuat dosa dan maksiyat dibelenggu. Semua ini mengantarkan pribadi dalam keluarga untuk bersikap santun, sabar dan mampu mengendalikan hawa nafsu, hingga sakinah di bulan barokah pasti terwuju.

                Dan semoga kita termasuk orang yang dapat melanjutkansifat-sifat yang baik ini selepas bulan ramadhan nanti. Hingga sakinah dalam keluarga tidak cuma di bulan ramadhan saja.. amin ya rabbal ‘alamin..

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close