AkhlaqIbrah

Sabar Untuk Tetap dalam Ketaatan

Untuk melakukan satu bentuk ketaatan sesungguhnya seorang hamba butuh kesabaran. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai (oleh hawa nafsu), sedangkan neraka dikelilingi oleh perkara-perkara yang disukai.” (HR. Muslim).

Artinya untuk mendapatkan surga dan terhindar dari neraka ada perintah yang harus dijaga dan larangan yang harus dijauhi, dan ini semua butuh kekuatan jiwa untuk menahan diri dari malas dan mendorong jiwa untuk melakukan ketaatan tersebut.

Banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Diantaranya Alloh Azza wa Jalla berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (QS Al Insan: 23-2)

Juga firman-Nya:

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka ibadahilah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS Maryam: 65). Dia juga berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS Thaha: 132)

Tauladan Dalam Ketaatan

Bicara tentang sabar dalam ketaatan ada fragmen kehidupan yang bisa kita jadikan tauladan. Yaitu keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihimusalam yang kisahnya diabadikan oleh Alloh di dalam surat Ash Shofat ayat 99 sampai 111.

Di usia 86 tahun Ibrahim belum dikaruniai putra, beliaupun menghadap kepada Alloh dan berdo’a:

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” Hingga Alloh-pun menjawab do’anya dengan firmanNYa:  “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

Lama menunggu hadirnya sang buah hati, betapa bahagianya menyambut kabar gembira tersebut (kehadiran seorang putra).

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS As Shofat: 102).

Ya…Ibrahim diperintah untuk menyembelih putra tercintanya. Sungguh Ibrahim dan Ismail mendapat ujian yang berat, butuh kesabaran untuk taat. (Dan Ismail-pun) menjawab:

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya:

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111).

Itulah keluarga ibrahim, tauladan kesabaran dalam menjalankan ketaatan.

Tabiat Jiwa

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudâmah al-Maqdisi rahimahullah seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam melakukan ketaatan-ketaatan, karena tabiat jiwa manusia cenderung enggan dan berpaling dari peribadahan.

Ibadah badaniyah (seperti shalat, membaca Al Qur’an, berpuasa, dan lainnya) tidak disukai oleh jiwa yang malas. Hingga butuh quwatul iqdam (kekuatan jiwa untuk mendorong) badannya hingga bergerak dan quwatul ihjam untuk mengalahkan kemalasan dan kelamahan dirinya.

Ibadah maaliyah (seperti membayar zakat, infaq, shodaqoh, aqiqoh, qurban) tidak disukai oleh jiwa yang bakhil. Maka untuk mampu mengamalkannya butuh kesabaran, dorongan jiwa untuk ‘suka memberi’ dan melawan kerakusan dan kekerdilan dirinya.

Bahkan ada ibadah yang merupakan gabungan antara ibadah badaniyah dan ibadah maaliyah (seperti ibadah Haji, Umroh, Jihad fi sabilillah). Maka dalam penunaiannya butuh kesabaran hingga ia siap meluangkan waktu dan tenaganya, meluangkan dana dan hartanya, mengalahkan kemalasan dan kelemahan dirinya.

Maka memohon kepada Alloh agar dikaruniai sabar dan berlindung kepadaNya dari sifat malas dan lemah tampaknya perkara yang tidak boleh diabaikan. Diantara doanya:

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Letak Sabar Dalam Taat

Sabar dalam ketaatan akan lebih sempurna jika seorang hamba memahami dimana kesabaran itu harus diposisikan. Dan Ibnu qudamah (Mukhtashar Minhajul Qaashidiin) kemudian mengatakan: “ Seorang yang mencari ridha Alloh Azza wa Jalla membutuhkan kesabaran melakukan ketaatan-ketaatan di dalam tiga keadaan: 

  1. Keadaan sebelum ibadah, yaitu meluruskan niat, ikhlas, dan kesabaran dari noda-noda riya’.
  2. Keadaan pada dzat (saat) ibadah, yaitu dia tidak lalai dari mengingat Alloh Azza wa Jalla pada saat beribadah, dan tidak bermalas-malasan dalam melakukan adab-adab dan sunah-sunahnya, kemudian dia menyertakan kesabaran sampai selesai dari amalan.
  3. Keadaan setelah selesai dari amalan. Yaitu bersabar (menahan diri) dari menyebarkan dan menampakkan amal yang telah dilakukannya (riya’ dan sum’ah) dan menahan diri berbagai perusak dan pembatal amal.”

Untuk terlaksananya amal, butuh kesabaran. Tetapi terlaksanaannya amal saja belum menjamin kemuliaan, hingga tertunaikan dengan ikhlas dan istiqomah. Maka kesabaran dalam semua keadaan butuh senantiasa difahami dan diperjuangkan. Semoga Alloh limpahkan kesabaran untuk tunduk dan taat terhadap perintahNya, sebagaimana keluarga Ibrahim yang telah mampu membuktikan kesabarannya.  Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close