Tafsir

Penjelasan Lengkap Tafsir Al Qur’an Surat Al Mulk Ayat 2

Berbicara masalah kehidupan memang tiada habisnya. Seolah kehidupan ini adalah panggung dimana setiap orang memiliki peran didalamnya. Masing – masing memilih jalannya yang mereka anggap terbaik baginya atau jalan yang mereka lebih cintai entah itu baik atau buruk. Namun pernahkah kita berpikir kenapa kita dihidupkan di dunia ini? Begitupula dengan lika likunya jalan yang kita lalui dipanggung yang begitu luas ini? Untuk apa? Apakah kehidupan kita hanya kita habiskan untuk mencari uang? Makan? Bersosial? Sampai kita tak sanggup membuka mata karena telah habis masa umur kita? Dan kematian seolah menjadi sesuatu momok sebagai penghancur semua harapan di dunia. Lalu untuk apa kita hidup jika seandainya yang dipikirkan hanya uang, makan, dan yang bersifat keduniaan lainnya padahal pada akhirnya semua itu tidak kita bawa saat ajal tiba?

Maka sungguh kehidupan tidak hanya untuk hidup tapi justru kematianlah yang menyadarkan kita bahwa kehidupan inilah sebagai jembatan mencari bekal setelah mati.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Pada postingan kali ini kami akan membahas tentang tafsir Surat Al Mulk ayat 2.  Ayat ini diharapkan akan memberikan secercah sinar untuk membuka mata kita, untuk memahami tentang hakikat kehidupan di dunia ini dan memahami lebih mendalam tentang kematian, serta beberapa point penting dalam meluruskan segala amalan kita dalam beribadah kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala

  1. APA ITU MAUT ?

Maut adalah Makhluk 

Ibnu Katsir mengatakan bahwa dari ayat ini menunjukkan kalau maut itu adalah sesuatu yang ada dan ia adalah makhluk. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Tafsir Ibnu Katsir, 8/176, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.)

 Maut adalah makhluk karena maut itu diciptakan.

Maut diciptakan dalam bentuk domba. Jika ia melewati sesuatu pasti akan mati. Sedangkan hayat (kehidupan) diciptakan dalam bentuk kuda. Jika ia melewati sesuatu pasti akan hidup. Inilah pendapat Maqotil dan Al Kalbiy. (Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/262, Mawqi’ At Tafasir.)

Tugas kita hanyalah mengimani maut dan hayat, walaupun keduanya tidak nampak bagi kita (perkara ghoib). Seorang mukmin adalah seseorang yang beriman pada perkara yang ghoib.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Orang yang bertaqwa adalah yang mengimani perkara ghoib.” (QS. Al Baqarah: 3)

  1. PERIHAL KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Mati dan Hidup adalah Kehendak Allah

Ath Thobariy mengatakan bahwa Allah akan mematikan siapa saja dan apa saja. Begitu pula ia akan memberi kehidupan pada siapa saja dan apa saja hingga waktu yang ditentukan. (Jaami’ Al Bayan fii Ta’wilil Qur’an, Ath Thobariy, 23/505, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.)

  1. MEMAHAMI HAKIKAT KEHIDUPAN DUNIA

Dunia Hanyalah Kehidupan Sementara Waktu

Dari ‘Atho’, dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Kematian akan ditemui di dunia. Sedangkan kehidupan hakiki adalah di akhirat.” Qotadah mengatakan, “Allah memang menentukan adanya kematian dan kehidupan di dunia. Namun Allah menjadikan dunia ini sebagai negeri kehidupan yang pasti akan binasa. Sedangkan Allah menjadikan negeri akhirat sebagai negeri balasan dan akan kekal abadi.” (Ma’alimut Tanzil, Al Baghowiy, 8/173,  Darut Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H.)

Kenapa Allah Menyebutkan Kematian Lebih Dahulu Baru Kehidupan?

Ada beberapa alasan yang disebutkan oleh para ulama:

Alasan pertama: Karena kematian itu akan kita temui di dunia. Sedangkan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat. –Lihat perkataan Ibnu ‘Abbas di atas-

Alasan kedua: Segala sesuatu diawali dengan tidak adanya kehidupan terlebih dahulu seperti nutfah, tanah dan semacamnya. Baru setelah itu diberi kehidupan. (Ma’alimut Tanzil, Al Baghowiy, 8/173,  Darut Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H.)

Alasan ketiga: Penyebutan kematian lebih dulu supaya mendorong orang untuk segera beramal.

Alasan keempat: Kematian itu masih berupa nuthfah (air mani), mudh-goh (sekerat daging) dan ‘alaqoh (segumpal darah), sedangkan kehidupan jika sudah tercipta wujud manusia dan ditiupkan ruh di dalamnya. (Fathul Qodir, 7/262)

“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”

Beberapa tafsiran mengenai “siapakah yang lebih baik amalnya”:

Pertama: siapakah yang paling baik amalannya di antara kita dan nanti masing-masing di antara kita akan dibalas.

Kedua: siapakah yang paling banyak mengingat kematian dan paling takut dengannya.

Ketiga: siapakah yang paling gesit dalam melakukan ketaatan dan paling waro’ (berhati-hati) dari perkara yang haram. (Fathul Qodir, 7/262)

Keempat: siapakah yang paling ikhlas dan paling benar amalannya. Amalan tidak akan diterima sampai seseorang itu ikhlas dan benar dalam beramal. Yang dimaksud ikhlas adalah amalan tersebut dikerjakan hanya karena Allah. Yang dimaksud benar dalam beramal adalah selalu mengikuti petunjuk Nabi. Inilah pendapat Fudhail bin ‘Iyadh.

Kelima: siapakah yang lebih zuhud dan lebih menjauhi kesenangan dunia. Inilah pendapat Al Hasan Al Bashri. (Ma’alimut Tanzil, 8/176)

  1. MELURUSKAN AMAL IBADAH

Syarat Diterimanya Ibadah Bukan Hanya Niat yang Ikhlas

Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Al Fudhail bin ‘Iyadh lalu berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 20, Darul Muayyad, cetakan pertama, 1424 H)

Oleh karena itu, syarat diterimanya ibadah itu ada dua:

  1. Niat yang ikhlas
  2. Mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tertolak. Semata-mata hanya ikhlas dalam beramal, namun tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Misalnya niatnya ikhlas membaca Al Qur’an, namun dikhususkan pada hari ketujuh kematian orang tuanya, maka amalan ini tertolak karena amalan seperti ini tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Tidak Menuntut Banyak Kuantitas Amalan, Namun Kualitasnya

Dalam ayat “supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”, di situ tidak dikatakan siapakah yang paling banyak amalannya. Namun dikatakan siapakah yang paling baik amalannya. Sehingga dituntut dalam beramal adalah kualitas (ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi), bukan kuantitasnya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/176.)

  1. MEMAHAMI ASMA ALLOH MAHA PENGAMPUN

Tidak Ada yang Dapat Menghalangi Kehendak Allah, Namun Dia Maha Pengampun

Dalam penutupan ayat kedua dari surat Al Mulk, Allah menyebut,

وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Di dalamnya terkandung makna tarhib (ancaman) dan targhib (motivasi). Maksudnya, Allah melakukan segala sesuatu yang Dia inginkan dan tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Allah akan menyiksa hamba-Nya jika mereka durhaka (enggan taat) pada-Nya dan tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Namun Allah Maha Menerima Taubat jika hamba yang terjerumus dalam maksiat dan dosa bertaubat dengan kesungguhan pada-Nya. (Tafsir Juz Tabaarok, Abu ‘Abdillah Musthofa bin Al ‘Adawiy, hal. 14-15, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1423 H.)

Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu setinggi langit dan Dia pun akan menutup setiap ‘aib (kejelekan) walaupun ‘aib itu sepenuh dunia. (Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 875, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.)

Begitulah penjelasan tentang tafsir surat Al Mulk ayat 2, semoga dapat membantu kita dalam memahami ayat – ayat qauliyah secara mendalam dan diharapkan dengan penjelasan tersebut dapat membuka hati kita untuk menerima kebenaran tentang hakikat kehidupan dan kematian serta ujian yang datang silih berganti di dunia ini sebagai parameter bagi setiap insan siapakah yang lebih baik, dan serius dalam menjalankan segala amalan dan peribadatan kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala dalam menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Sumber : rumaysho.com dengan beberapa penyesuaian redaksi BDB

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close