Khazanah

Parameter Mulia atau Hina

Apa yang kita persiapkan saat mendapat kabar akan kedatangan tamu orang yang kita kenal terpandang, berkedudukan, dan hartanya banyak? Ya… mungkin kita sedemikian serius menyiapkan berbagai macam ‘ubo rampe’ penyambutan untuk memuliakannya. Mungkin rumah harus di cat ulang, korden diperbaharui, mebel dibersihkan, lantai dipel berkali-kali, hingga berbagai menu hidanganpun dipersiapkan.

Respon kita mungkin berbeda bila tamu yang dikabarkan hadir adalah orang biasa, (bukan orang berharta, tidak berkedudukan, tampilanpun sederhana). Kita mungkin merasa cukup dengan ‘apa yang ada’, tanpa penyambutan istimewa bahkan tidak jarang justru ‘dipandang sebelah mata’.

Ya… kebanyakan manusia menilai bahwa standar mulia dan hina diukur dari banyak sedikitnya harta yang dimiliki. Seseorang dipandang mulia dan terhormat bila hartanya banyak, maka iapun dimuliakan dan dihormati karenanya. Sebaliknya orang yang tidak banyak hartanya maka dipandang hina dan tidak layak diperlakukan istimewa.

Bila demikian yang terjadi (dan memang seperti itulah yang terjadi di jaman ini), bisa jadi ada orang yang sebenarnya ‘sangat hina’ dalam pandang Alloh (karena kesyirikannya, karena kekafirannya, karena kefasikannya, atau karena kedzalimannya) justru dihormati dan dimuliakan. Sementara, orang yang dijuluki oleh Alloh sebagai ‘khoirul barriyah’ (sebaik-baik makhluk) justru dipandang sebelah mata bahkan dianggap hina.

Kemuliaan Sesungguhnya

Seorang muslim mestinya menggunakan standar rabbani dalam menilai hina dan mulianya manusia. Dan ‘banyaknya harta’ tampaknya bukan tolok ukur mengenali  kemuliaan dan kehinaan seseorang. Alloh Ta’ala berfirman: 

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”  Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (QS Al Fajr: 15-16)

Melalui ayat diatas Alloh hendak membimbing hambaNya bahwa lapangnya rejeki, banyaknya harta bukanlah parameter kemuliaan dan kehinaan. Karena semua itu adalah sama dalam pandangan Alloh, yaitu sebagai batu uji.  Sedangkan kemuliaan atau kehinaan seseorang dilihat dari lulus atau tidaknya merespon ujian tersebut.

Jika banyaknya harta membuat seseorang bersyukur dan taat, maka ia adalah orang yang mulia dan layak dimuliakan. jika sempitnya rejeki, sedikitnya harta membuat seseorang bersabar dan teguh pendirian, maka iapun orang yang mulia dan layak dimuliakan. Inilah standar rabbani.

Syarrul vs Khoirul Bariyyah

Fase akhir zaman adalah fase dimana para pendurhaka justru akan lebih banyak mendapat limpahan harta. Hal ini sebagaimana sabda Beliau sholallohu alaihi wasalam:

لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى تَصِيرَ لِلُكَعِ ابْنِ لُكَع

“Dunia tidak akan sirna, sampai ia dikuasai oleh luka bin luka” (HR Ahmad)

 

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَع

“Kiamat tidak akan terjadi sehingga yang menjadi manusia paling bahagia dengan dunia adalah Luka’ bin Luka’ (dungu bin dungu) (HR. Tirmidzi dishahihkan Al Albani)

Maka di fase ini kita akan didapati orang yang paling berkedudukan adalah orang yang bodoh dalam urusan agama. Di fase ini kita akan dapati orang yang paling banyak hartanya, justru adalah orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Alloh, yang tidak kenal halal haram, dan yang bergelimang dalam kemaksiyatan.

Wal hasil, bila kemuliaan diukur dari kaya dan banyaknya harta, maka kelompok syarrul bariyyah justru yang akan mulia dan dimuliakan. Sebaliknya manusia yang termasuk khairul bariyyah bisa jadi terdiri dari orang pinggiran yang termarjinalkan, orang yang keberadaannya tidak diperhitungkan, orang yang kehadirannya tidak mendapat penghoramatan.

Maka setelah itu tunggulah berbagai musibah dan keburukan yang akan muncul. Kebanyakan manusia akan berorientasi mencari banyaknya harta, tidak peduli bagaimana dan dari mana harta di dapat. Kejujuran tidak lagi dihargai, kesederhanaan akan ditinggalkan. Manusia menjadi egois, tidak peduli dengan kesusahan orang. Sikut kiri kanan, menjilat yang diatas, menginjak yang dibawah demi harta yang didambakan.

Ternyata berawal dari salah mengukur mana yang mulia dan mana yang hina bisa menimbulkan kerusakan yang sedemikian hebatnya. Maka seorang muslim harus memiliki ukuran yang benar dalam menetapkan apa hakikat mulia dan apa hakikat hina. Harus benar menentukan siapa yang layak dimuliakan dan siapa yang hina.

Belajar Dari Umar

Beberapa waktu setelah Umar radhiallohu’anhu diangkat sebagai khalifah, beliau mengadakan open house. Moment tersebut disambut oleh beberapa sahabat dan dimanfaatkan untuk menemui dan menyampaikan uneg-uneg kepada Beliau. Diantaranya yang sudah berbaris nunggu di depan rumah adalah Khalid bin Walid, Abu Sofyan, dan Bilal bin Robbah.

Khalid bin Walid adalah pemuda gagah putra Walid bin Mughiroh pembesar dan konglomeratnya bangsa Arab. Abu Sofyan dialah pemuka dan bangsawannya bangsa Qurasy. Sementara bilal bin robah, lelaki kulit hitam bekas budak dengan kesederhanaannya.

Jika hari ini kita dihadapkan pada tamu dengan perbedaan strata seperti diatas (ada anak konglomerat, ada bangsawan ningrat, dan ada seorang buruh rendahan), siapakah yang akan kita dahulukan untuk masuk? Siapakah yang akan kita sambut dengan pemuliaan? Kemungkinan kita akan mendahulukan dan memuliakan Sang Anak Konglomerat atau Si  Bangsawan Ningrat dan tidak memandang kehadiran Si buruh.

Umarpun bertanya kepada pembantunya:

“Wahai pembantu siapa yang di depan rumah?” Pembantunyapun menjawab: “Khalid bin Walid, Abu Sofyan, dan Bilal bin Robbah.” Maka Umar berkata memerintah: “Persilahkan masuk Bilal bin Robah”. Kondisi ini membuat Abu Sofyan ‘bersungut-sungut’ dan komentar: “Mengapa bekas budak ini didahulukan”. Abu Sofyan merasa dinomerduakan dan tidak dipandang oleh Umar. Maka Khalid-pun komentar: “Wahai Abu Sofyan di mana posisimu di saat Bilal diseret di padang pasir, disiksa karena keislamannya?”.

Inilah jawaban tepat Khalid, bahwa Bilal  lebih layak dimuliakan karena dia lebih dahulu masuk islam. Sementara saat Bilal disiksa, Abu Sufyan dan Khalid justru masih berada di barisan Kafir Qurasy. Dan Umar tahu betul ukuran kemuliaan seseorang, bukan dari tampilan, kedudukan, dan banyaknya harta. Tapi dari komitmen, sumbangsih, keimanan, dan ketaqwaannya. “Inna akromakum ‘indallohi atqokum”

Mampukah kita berbuat demikian? Wallohuamusta’an 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close