Akhlaq

Pahitnya Balasan Karena Durhaka Kepada Orang Tua

Berapa banyak orang yang mampu menghidupkan malam harinya, tidak putus puasa senin kamisnya, dikenal dermawan dengan hartanya, tetapi terhadap orang tuanya ia gagal dalam menunjukan sikap baktinya. Bicaranya kasar, enggan perhatian terhadap kesusahan orang tua, tidak menjaga sifat santun dihadapannya. Mungkin ia lupa sedemikian luhur kedudukan orang tua, hingga keridhoanya adalah kunci keridhoan Alloh Ta’ala.

Dan, bukan cuma luhurnya kedudukan orang tua, namun lebih dari itu seseorang juga harus menyadari betapa dahsyatnya petaka akibat durhaka hingga kebaikannya terhadap orang tua dibangun dari rasa takutnya kepada Alloh, harapan atas janjiNya, dan kecintaan terhadap syariatNya yang mulia.

Durhaka

’Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma berkata:

”Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua.”

Mujahid mengatakan:

“Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya.”

Ka’ab Al Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka pada orang tua, beliau mengatakan, “Apabila orang tuamu memerintahkanmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat, pen) namun engkau tidak mentaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.”

Jadi, durhaka kepada orang tua (‘Uququl Walidain) adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan, maupun perbuatan sehingga orang tua merasa sakit hati/sedih atau sakit pada badan.

Cakupan Durhaka

Gerak dan diamnya lisan bisa termasuk durhaka. Enggan menjawab panggilan orang tua adalah durhaka, menjawab dengan suara membentak juga termasuk durhaka. Jangankan membentak,  berkata ‘cih’ saja, cukup membuat seseorang disebut durhaka, karena didalamnya menunjukan keengganan untuk melakukan sesuatu, sinis dan tidak suka dengan ucapan/perintah orang tua.

Ekspresi wajah juga bisa termasuk durhaka. Anak yang selalu cemberut dan bermuka masam dihadapan orang tua tentu membuat orang tua menjadi sedih dengannya. Apalagi bila setiap kali orang tua berkunjung, yang ada cuma mengeluh tentang kesulitan ekonomi dan problematika hidupnya. Pasti orang tuapun jadi sedih karenanya.

Adapula anak yang sedemikian bakhil terhadap orang tuanya, enggan menafkahinya disaat susah. Banyak berinfaq kepada orang lain tetapi orang tua sendiri dalam keadaan papa tidak diperhatikannya. Maka yang demikian juga termasuk durhaka.

Lebih jahat lagi bila ada anak tega membeberakan aib dan kekurangan orang tua dihadapan orang lain, sungguh dia telah durhaka dan sejatinya telah membuka aib diri sendiri juga. Atau lagi bila ada anak malu mengakui orang tuanya sendiri, entah karena miskinnya, bodohnya, atau ndesonya. Na’udzubillah

Belajar dari Haiwah bin Syuraih seorang ulama terkemuka, mubaligh handal, tapi tidak membuat ia gengsi mentaati perintah orang tuanya meskipun untuk melakukan hal-hal yang remeh. Suatu kali beliau sedang membawakan kajian dihadapan orang-orang. Tiba-tiba ibunya datang dan berkata:

“Wahai Haiwah, berdirilah sejenak, berilah makan untuk ayam kita!” beliaupun mohon ijin kepada hadirin untuk menunaikan perintah sang Ibu. Ya karena enggan ta’at adalah durhaka.

Pahitnya Buah Durhaka

Durhaka termasuk akbarul kabair (dosa besar yang paling besar) sebagaimana disebutkan dalam shahih Al Bukhari:

“Dosa besar yang paling besar adalah mensekutukan Alloh, membunuh, durhaka kepada orang tua dan ucapan dusta atau kesaksian palsu)”. Maka imam Adz Dzahabi memasukan durhaka sebagai salah satu dosa besar dalam kitab Al Kabairnya. Dan tentunya durhaka membawa berbagai petaka dan keburukan bagi pelakunya, diantaranya:

  1. Dosa yang disegerakan balasannya

Diantara dampak buruk durhaka adalah bahwa dosa durhaka termasuk dosa yang akan disegerakan balasannya kepada pelakunya di waktu hidupnya sebelum siksa di akhirat nanti. Hal ini sebagaimana sabda Beliau SAW:

Setiap dosa bila Alloh kehendaki akan ditangguhkan balasannya hingga hari kiamat, kecuali durhaka, sesungguhnya durhaka akan disegerakan balasanya bagi pelakunya” (Hadits Riwayat Hakim,dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu). Adapun balasan di dunia bisa berupa sakit di badan, sempitnya rejeki, hilangnya ketentraman rumah tangga, dijauhkan dari hidayah hingga su’ul khatimahna’udzubillah..

  1. Mendapat doa buruk dari orang tua

Ini dampak buruk yang lain, durhaka membuat orang tua tidak ridho, emosi dan marah terhadap anak. Saat emosi bisa jadi orang tua mengucapkan suatu kalimat yang berisi laknat dan do’a buruk untuk anaknya. Padahal Beliau bersabda:

Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Maka tengoklah, berapa banyak keburukan menimpa manusia karena doa buruk orang tuanya sendiri.

  1. Durhaka mengundang laknat Alloh

Di dalam musnad Ahmad, Beliau bersabda:

“Semoga Alloh menimpakan laknat orang yang menyembelih untuk selainNya, Alloh melaknat orang yang suka merubah batas tanah, Alloh melaknat orang yang menyesatkan orang buta, Alloh melaknat orang yang mencela orang tuanya sendiri, Alloh melaknat orang yang menasabkan kepada selain bapaknya, dan semoga Alloh melaknat orang yang berbuat perbuatan kaum Luth.”

  1. Durhaka sebab diharamkan masuk surga

Di dalam Musnad Ahmad juga disebutkan:

Tiga golongan manusia yang sungguh Alloh tabaroka wa ta’ala haramkan baginya surga: orang yang kecanduan minuman keras, orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan dayuts (laki-laki yang tidak cemburu dengan keburukan istri dan anaknya)”

Inilah diantara keburukan durhaka. Betapa  pahitnya bila orang tua tidak ridho dengan sikap kita. Akhirnya, renungkanlah ayat ini:

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (QS Al Ahqaf: 15).

Wallohua’lam.

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close