Muamalah

Pahit dan Bahaya Hutang dalam Islam

Dampak Hutang di Dunia & Akherat

Tidak hutang maka tidak punya’  inilah kalimat yang sering muncul untuk menjustifikasi hutang. Entah sekedar gurauan atau memang sudah menjadi prinsip hidup, yang jelas banyak orang mencoba memuaskan berbagai keinginannya meski dengan cara berhutang.

Perabot rumah tangga dengan mudah didapat dengan cara kredit, sepeda motor baru bisa didapat cukup dengan menyetor KTP, mobil baru bisa dibawa pulang cukup dengan DP 4 jutaan, beli rumahpun bisa dikredit hingga belasan tahun angsuran. Bahkan mau berangkat haji-pun ada dana talangan bagi yang hendak menunaikan meski belum berkemampuan.

Timbangan Syar’i

            Hukum hutang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Alloh Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”(QS. Al Baqoroh : 282)

Termasuk dalil bolehnya hutang karena Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun berutang, sebagaimana disebutkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu ia berkata:

“Aku mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dan menambahkannya”. (HR. al-Bukhari)

Dan di dalam Ensklopedi Fiqh Muamalah, disebutkan bahwa hukum Qordh (hutang-piutang) mengikuti hukum taklifi: terkadang boleh, terkadang makruh, terkadang wajib, tapi juga terkadang haram. Ini semua dikaitkan dengan tujuan masing-masing orang yang berhutang.

            Berhutang untuk bermaksiyat maka hal ini haram, termasuk didalamnya berhutang untuk bermegah-megah, tanpa disertai kemampuan untuk melunasinya. Sedangkan berhutang untuk menutup hutang yang lain (gali lubang tutup lubang) maka hal ini adalah perkara makruh. Adapun berhutang untuk menutupi kebutuhan maka hal demikian diperbolehkan, termasuk hutang untuk menambah permodalan dengan perhitungan matang serta memiliki kemampuan untuk melunasinya maka hal ini juga boleh.

Sayangnya kebanyakan mengabaikan aspek syar’i, hutang bukan hanya untuk menutupi kekurangan kebutuhan,  tetapi juga dijadikan sarana memuaskan berbagai keinginan (mendongkrak status sosial, menjaga image agar tampak berkelas, hingga untuk bermegah-megah dan bermewah-mewah) tanpa mempertimbangkan kemampuan diri. Hingga hutangpun menjadi kehinaan dan penderitaan.

Belitan Hutang Biang Kemunafikan

Meski hutang diperbolehkan, ternyata Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berhutang, dan banyak berlindung kepada Alloh dari hutang.  Dalam Shahih Al Bukhari, ‘Aisyah radliallahu ‘anha mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a dalam shalat:

Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghram” (Ya Allah aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan terlilit hutang).

Lalu ada seseorang yang bertanya:

“Mengapa anda banyak meminta perlindungan dari hutang, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya seseorang apabila sedang berhutang ketika dia berbicara biasanya berdusta dan bila berjanji sering menyelisihinya”.

Ya, belitan hutang terkadang melahirkan akhlaq yang buruk. Tatkala tanggal jatuh tempo pembayaran telah tiba sementara dana belum tersedia, sering orang mencari argumen dan berkilah, berjanji dan bersumpah akan melunasinya di lain waktu. Yang penting mendapat toleransi, meski seribu alasan dan janjinya hanyalah kedustaan belaka. Jadilah dia ‘pendusta’ dan suka mengingkari janji, padahal keduanya adalah karakter orang munafik.

Belitan Hutang Melahirkan Tamak

Merasa cukup dengan yang sedikit (al qona’atu bil qolil) termasuk watak mulia yang akan melahirkan syukur dan juga taqwa. Sementara, orang yang terlilit hutang akan senantiasa merasa kurang dan kurang. Apa yang dirasa cukup oleh kebanyakan orang, baginya belum menjadi rejeki  yang membahagiakan. Maka efek yang kemudian muncul adalah sifat tamak, kufur nikmat, hilanglah wara’ (atau sifat kehati-hatiannya). Bila ini semua muncul, jadilah ia orang yang sulit bersyukur, hilanglah taqwa dalam dirinya. Na’udzubillah

Al qona’atu bil qolil adalah sumber bahagia, melahirkan ketentraman dan ketenangan. Sebaliknya belitan hutang melahirkan kegundahan dan kegelisahan, khawatir dan ketakutan. Karena hutang, menurut Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Maka cukuplah orang akan merasakan pahitnya hidup, karena hutang yang melilitnya.

Pahitnya Hutang Di Akhirat Nanti

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim)

Mati terlilit hutang berarti kehilangan satu jaminan untuk masuk surga. Diriwayatkan dari Tsauban, mantan budak Rasulullah, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi Dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani).

Hutang tak terbayarkan bisa menjadi sebab terkurasnya pahala kebaikan-kebaikannya. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham, maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya; karena di sana tidak ada lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham.” (HR. Ibnu Majah, di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).

Seorang syuhada-pun bisa terganjal masuk jannah, gara-gara hutang yang melilitnya. Dari Abu Qatadah radhiyallahu’anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. Kemudian berdirilah seorang sahabat, lalu bertanya,

“Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam kepadanya “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Melainkan hutang, karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim)

Saudaraku, inilah pahitnya hutang. Bila sebagian orang bangga hidup bermegah-megahan dari hutang, bisa jadi karena ia belum menyadari resiko pahitnya hutang di akhirat nanti. Mari tumbuhkan sifat qonaah (merasa cukup dengan yang sedikit). Wallohua’lam.

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close