Khazanah

Orang Miskin yang Alloh Muliakan

 

Bagi sebagian orang, bisa jadi kesederhanaan dipandang sebagai kehinaan dan kerendahan. Karena kebanyakan orang memang mengukur kemuliaan adalah dari tampilan (bajunya, kendaraannya, atau rumahnya). Layak, ‘demi tampilan’ orang siap berbuat apa saja, yang penting  dihormati dan dimuliakan. Maka munculah orang-orang yang nampak kaya tetapi sesungguhnya hina dan papa.

Tapi ada pula orang yang ‘nrima apa anane ’dalam artian tidak mau hidup dalam kepura-puraan (kelihatan wah tapi sebenarnya susah). Tidak kepencut dengan gonta gantinya model sepeda motor, design rumah, mode fashion, gadget, dan sebagainya. Ia tetap sahaja dalam kesederhanaanya. Tidak terdengar keluhan saat susah, juga tidak nampak pongah saat lapang. Tidak ada yang iri dengan kondisinya, tidak pula ada yang mendengki dengan kenikmatan yang didapatnya…ayem….tentrem.

Betapa beruntungnya bila kondisi tersebut dibarengi dengan ketundukan dan ketaatan terhadap Rabbnya. Perintah ditunaikan, larangan ditinggalkan, dia bedakwah, dan berjuang di jalanNya. Atau inikah yang dimaksud fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah?

Miskin Mulia?

Benarkah miskin bisa menjadi sebab kemuliaan? Tentu bisa, apalagi sedemikian banyaknya dalil naqli yang membicarakan hal ini, diantaranya:

Kebanyakan pengikut para Rasul adalah Faqir miskin. Ini dibuktikan dalam firman-Nya: Mereka berkata :

Apakah kami akan beriman kepadamu, Padahal orang-orang yang mengikuti kamu adalah orang-orang yang hina?” (QS: as-Syu’ara: 111).

Hiraklius (Kaisar Romawi) bertanya kepada Abu Sufyan tentang Nabi Muhammad,

Saya menanyakan kepadamu, apakah yang mengikutinya para pembesar atau orang-orang lemah? Engkau jawab bahwa yang mengikutinya adalah orang-orang lemah dan memang mereka pengikut para Rasul. (HR Bukhari)

Allah muliakan dengan cepatnya pengabulan do’a untuk mereka. Dari Haritsah bin Wahb al –Khuza’i ia mendengar Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam bersabda:

Maukah kalian kuberitahukan tentang penduduk surga? Yaitu semua orang yang lemah lagi diremehkan (karena keadaannya di dunia). Jika mereka bersumpah dengan nama Allah maka akan dikabulkan. (HR al-Bukhari)

Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam tidak khawatir umatnya mengalami kefaqiran, justru beliau khawatir terhadap orang-orang kaya. Dari Abu Ubaidah Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam bersabda:

Demi Allah, tidaklah kefaqiran itu aku takutkan bagi kalian, tetapi aku khawatir dunia ini dilapangkan bagi kalian layaknya telah dilapangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian akan berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka terdahulu, lalu ia akan melalaikan kalian sebagaimana telah melalaikan mereka. (HR. al-Bukhari)

Pertolongan dan rezeki dari Allah disebabkan dengan doa orang-orang yang lemah, shalat dan keikhlasan mereka. Dari Sa’d, Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam bersabda:

Allah hanya menolong umat ini karena orang-orang lemah mereka dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka. (HR.an-Nasa’i)

Nabi berdoa agar dihidupkan dalam keadaan tawadhu seperti kebanyakan orang miskin. Beliau berdoa: 

Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin dan bangkitkan aku bersama kelompok orang-orang miskin.

Mereka adalah rombongan yang pertama kali kelak menuju al-Haudh (Telaga) Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam bersabda:

Orang-orang yang pertama kali mendatangi (telaga) adalah Fuqara Muhajirin yang rambutnya kusut, yang pakainnya lusuh. Jika melamar wanita-wanita kaya, ia akan ditolak dan jika meminta izin untuk masuk maka ia tidak akan diizinkan. (HR. at-Thabrani, as-Shahihah:1082)

Faqir miskin orang-orang yang pertama kali melewati as-Shirath (jembatan di atas neraka Jahanam). Dari Tsauban bahwa seorang lelaki Yahudi pernah bertanya kepada Nabi:

Di manakah manusia tak kala hari digantikannya bumi dengan bumi dan langit yang baru (QS. Ibrahim: 48)?” Beliau menjawab: “Mereka dalam kegelapan sebelum jembatan.” Ia bertanya lagi “Siapakah orang-orang yang pertama kali melewati jembatan?” Beliau menjawab: “Fuqaranya kaum Muhajirin… (HR MUslim)

Maka mereka juga kelompok pertama yang akan memasuki surga. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam bersabda

Fuqara kaum muslimin lebih dahulu masuk surga dari orang-orang kaya setengah hari, yaitu 500 tahun (HR. at-Tirmidzi).

Mengapa bisa terjadi? Ya karena orang miskin tidak banyak harta hingga lebih ringan dan cepat dalam proses hisab.

Dan akhirnya, beliau mengabarkan bahwa mayoritas penduduk surga adalah fakir miskin. Dari Imran bin Husain, Rasulullah Shalallohu wa’ala alahi wasalam bersabda

Saya melihat surga dan mayoritas penghuninya adalah orang-orang faqir. (HR Al Bukhari)

Apakah Semua Yang Miskin?

Berapa banyak orang miskin yang benci dengan qodarulloh, mereka berprasangka buruk terhadap Alloh, merasa Alloh telah berbuat tidak adil dengan menimpakan kemiskinan kepadanya. Hingga mereka enggan tunduk dan taat kepadaNya. Orang miskin semacam ini tentu bukanlah orang yang mulia.

Berapa banyak orang kaya yang tidak disibukan dengan hartanya, seperti Sulaiman, Utsman bin Afan, dan Abdurahman bin Auf. Tetapi berapa banyak pula orang miskin yang sangat berambisi dengan harta, disibukan dengan kemiskinannya. Bahkan kemisikinan telah memalingkannya dari cinta dan ketentramannya kepada Alloh. Orang miskin semacam ini tentu juga bukan orang yang mulia.

Orang miskin yang bahagia adalah orang miskin yang menghiasi dirinya dengan sifat qona’ah. Yaitu mampu merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Ia bersabar, tidak suka berkeluh kesah, dan tidak merendahkan diri dengan meminta-minta di hadapan orang kaya. Ia tetap masih bisa bersifat dermawan, tidak kikir dengan apa yang lebih dari kebutuhannya.

Miskin yang melahirkan kemuliaan adalah miskin yang memunculkan sifat tawadhu (rendah hati), tawakal (bergantung kepada Alloh). Ia mampu berprasangka baik terhadap Alloh. Bahkan ia menyadari bahwa kemiskinan adalah baik baginya, bentuk rahmat dan kasih sayangNya.

Akhirnya, sebagaimana orang kaya bisa bahagia dan mulia, maka orang miskinpun sama berhak untuk bahagia dan mulia. Sebagaimana orang kaya bisa sengsara dan hina orang miskinpun. Keduanya adalah ujian dari Alloh, siapa yang lulus maka dialah yang bahagia dan mulia. Wallohua’lam

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close