Tsaqofah

Mengenal Perbedaan Jin, Syetan dan Iblis

Meski tanpa sadar kita sering berkawan dan berkomplot dengannya, atau setidaknya mengikuti langkah-langkahnya, tetapi sebenarnya syaitan adalah musuh. Alloh Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS Fathir: 6)

Bahkan musuh abadi, karena Dia (iblis) berkata:

Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil. (QS Al Isra: 62).

Inilah komitmen iblis, ia mendedikasikan dirinya untuk memusuhi dan menyesatkan manusia. Menjerumuskan manusia ke dalam jurang neraka.
Maka, bila ia musuh, maka mengenalinya menjadi wajib. Hingga kita mengetahui kekuatan dan kelemahannya, tipu daya dan sepak terjangnya. Termasuk, kita butuh memahami hubungan antara jin, syetan dan iblis.

Jin
Ia salah satu makhluk Alloh Ta’ala, sebagaimana manusia dan malaikat. Ia dinamakan jin, karena memiliki sifat ijtinan, yang artinya tersembunyi dan tidak kelihatan. Manusia tidak bisa melihat jin sementara jin bisa melihat manusia. Allah berfirman:

Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka. (QS. Al-A’raf: 27)

Jin memiliki kesamaan dengan manusia dalam dua hal: 1) Jin memiliki akal dan nafsu, sebagaimana manusia juga memiliki akal dan nafsu. 2) Jin mendapatkan beban perintah dan larangan syariat, sebagaimana manusia juga mendapatkan beban perintah dan larangan syariat. Sebagaimana firmanNya:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz Dzariyat: 56)

Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir, sebagaimana manusiapun demikian. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang pintar masalah agama dan ada jin yang bodoh. Bahkan ada jin Ahlussunnah dan ada jin pengikut kelompok sesat, dan seterusnya. Sebagaimana pengakuan jin sendiri yang diabadikan dalam Al Qur’an:

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS Jin: 11)

Konsekuensianya segolongan mereka masuk surga dan sebagian yang lainpun masuk neraka sebagaimana manusia. Alloh Ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia (QS Al ‘raf: 179)

Dalam hal adat kebiasaanpun jin mirip dengan manusia, mereka makan minum sebagaimana manusia makan dan minum. Jin berumah tangga dan beranak pinak, sebagaimana manusiapun berkeluarga dan berketurunan. Mereka kentut, mereka buang air besar dan buang air kecil. Banyak dalil-dalil shahih yang menyebutkan demikian.
Perbedaannya dengan manusia adalah dalam asal usul penciptaannya, sebagaimana firmanNya:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Al Hijr: 26-27)

Ayat ini juga mengabarkan bahwa jin telah diciptakan terlebih dahulu daripada manusia.
Jin memiliki kemampuan bergerak cepat, sebagaimana Ifrit yang menjanjikan kepada Nabi Sulaiman untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis hanya dalam tempo sekejap. Padahal negeri Saba berada di Yaman sedangkan Sulaiman berada di Baitul Maqdis (Palestina).
Jin juga mampu menduduki tempat-tempat yang ada di langit, sebagaimana disebutkan dalam QS Jin 8-9: Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Telah lama mampu membuat bangunan-bangunan tinggi, sebagaiman disebutkan dalam Surat Saba: 12-13) juga mampu menjelma (Berubah wujud) menjadi sosok manusia atau hewan.

Syetan
Adapun untuk memahami siapa setan, satu prinsip yang harus dipegang, bahwa Jin itu makhluk dan setan itu sifat. Karena setan itu sifat, maka dia melekat pada makhluk dan bukan berdiri sendiri. Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.
Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,

Setan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang. (Alamul Jinni was Syayathin, Hal. 16).

Dinamakan setan, dari kata; syutun, yang artinya jauh. Karena setan dijauhkan dari rahmat Allah.
Kembali pada keterangan sebelumnya, karena setan itu sifat maka kata ini bisa melekat pada diri manusia dan jin. Sebagaimana penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ada setan dari golongan jin dan syetan dari golongan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin.  (QS Al An’am: 112)

Sekali lagi ayat ini menunjukan bahwa syetan adalah sifat. Jin yang membangkang maka dia disebut syaitan , manusia yang membangkangpun disebut syetan. Meski secara umum, penyebutan syaitan sering yang dimaksud adalah syaitan dari golongan jin.

Iblis
Adapun Iblis, dia adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah:

Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah. (QS. Al-Kahfi: 50)

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa Iblis adalah bapak moyangnya Jin sebagaimana Adam adalah bapak moyangnya manusia.
Dialah satu-satunya jin yang diberi tangguh kematiannya hingga hari kiamat. Berkata iblis:

Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan Allah berfirman: (Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. (Al Hijr: 36-37)

Dialah yang memiliki dendam abadi untuk menyesatkan anak cucu Adam, menyiapkan berbagai macam jebakan, tipu daya hingga manusia enggan bersyukur, enggan taat kepada Rabbnya.
Inilah hubungan antara Jin, Syetan, dan Iblis, kami kutip dari buku Alamul Jin Wasy Syayathinn; Dr. Umar Sulaiman Al Asqor (Terjemahan). Wallohu a’lam bishowab

 

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close