Khazanah

Lebih Mulia Manakah antara kaya Bersyukur dan Miskin Bersabar ?

Diantara permasalahan yang menjadi perbincangan di kalangan ulama adalah: “Mana yang lebih mulia antara orang kaya yang bersyukur ataukah orang miskin yang sabar?”. Sebagian mengatakan kaya yang bersyukur lebih mulia, tetapi sebagian berpendapat miskin yang sabar yang lebih mulia di sisi Alloh. Dan masing-masing mengunjukan hujah yang tak terbantahkan dari kitab, sunnah, atsar, dan hikmah-hikmah yang ada.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai masalah ini, kemudian beliau berkata:

Di kalangan ulama mutaakhirin terjadi perbedaan pendapat manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur dengan orang miskin yang sabar?” sebagian ulama dan ahli ibadah menguatkan salah satunya, sedang sebagian yang lain menguatkan yang lainnya

Kemudian beliau berkata:

ada kelompok ketiga yang berpendapat bahwa tiada yang lebih utama dari keduanya melainkan karena ketaqwaan. Mana yang lebih agung keimanan dan ketaqwaannya, maka dialah yang lebih utama. Jika dalam hal ini iman dan ketaqwaanya sama maka mereka juga sama dalam hal keutamaan.

Kemudian Ibnu Taimiyah berkata:

inilah pendapat yang paling benar, karena nash-nash kitab dan sunah juga menunjukan bahwa keutamaan itu ditentukan oleh keimanan dan ketaqwaan seseorang.

Alloh ta’ala berfirman:

إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرٗا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِهِمَاۖ

Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. (QS An Nisa: 135)

Keduanya Mulia & Utama

Banyak dari kalangan para Nabi yang termasuk orang-orang kaya, diantaranya Nabi Ayub, Nabi Sulaiman, Nabi Daud. Demikian pula dari kalangan para sahabatpun banyak diantara mereka yang kaya, seperti Umar, Utsman, Abdurahman bin Auf, Tholhah, AzZubeir. Dan nyatanya mereka lebih utama dibandingakan dengan kebanyakan orang miskin.

Demikian pula banyak orang-orang miskin dari mereka yang ternyata lebih utama daripada orang-orang yang kaya. Adapun orang-orang yang sempurna, maka mereka itu adalah orang-orang yang melaksanakan dua sifat kemuliaan sekaligus. Mereka melaksanakan sabar dan syukur secara sempurna. Sebagaimana Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam dan Abu Bakar AS Shidiq.

Kenali Diri

Terkadang bagi sebagian orang kemiskinan justru lebih manfaat bagi dirinya. Ibadahnya lebih tekun. Tawakalnya lebih sempurna. Hatinya tidak disibukan dengan harta. Ia mampu bersabar dan menghiasi diri dengan akhlaq mulia (qona’ah, tawadhu’, santun dan lembut). Sebaliknya saat harta berlimpah justru membuat dirinya lalai, condong kepada maksiat, sibuk dengan harta, pongah dan berbangga diri.

Alloh Ta’ala berfirman:

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (QS As Syuro: 27)

Sebaliknya terkadang bagi sebagian orang kekayaan justru lebih manfaat bagi dirinya. Hatinya tenang dalam beribadah, berdakwah dan berjuang. Ia bisa menebarkan kebajikan dengan hartanya: tersantuninya fakir miskin, ditopangnya berbagai aktifitas dakwah, berjihad dijalanNya dengan harta yang dimilikinya.

Maka seorang hamba semestinya cerdas mengenali dirinya. Kondisi apa yang maslahat untuk dirinya dan apa yang mudhorot untuk dirinya.

Masuk Surga Duluan

Beliau sholallohu alaihi wa salam bersabda:

Sesungguhnya orang-orang miskin dari umat islam akan masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya mereka ( HR Tirmidzi).

Apakah hadits ini menunjukan keutamaan mutlak orang miskin atas orang kaya?

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa :

orang-orang miskin lebih dahulu masuk surga, karena hisab mereka lebih ringan daripada orang-orang kaya. Sedangkan orang-orang kaya kaya lebih akhir masuk surga karena hisab mereka yang lebih berat.

Apabila salah seorang dari mereka (orang kaya) di hisab, ternyata kebaikan kebaikannya lebih agung dari kebaikan-kebaikan orang miskin, maka derajatnya lebih tinggi daripada orang miskin tersebut. Meskipun ia masuk jannah belakangan.

Demikian pula tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab, salah satunya Ukasyah bin Mihson. Terkadang seseorang yang derajatnya lebih tinggi justru akan menghadapi hisab sebelum masuk jannah. Bedanya mereka yang masuk jannah tanpa hisab, terbebas dari berat dan lelahnya penghisaban. Ingat, Abu Darda pernah berkata:

Hisab terhadap pemilik dua dirham lebih berat dari pada hidab terhadap pemilik satu dirham.

Muhasabah

Ada baiknya mari renungi beberapa firman Alloh berikut:

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar (QS At Taghobun: 15)

 

وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِي ٱلۡغُرُفَٰتِ ءَامِنُونَ

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga) (Qs Saba’: 37)

Beliau sholallohu alaihi wa salam bersabda:

Beruntung orang yang dibimbing kepada islam, penghidupannya cukup, dan qona’ah menerima apa yang Alloh berikan untuknya (HR Ahmad).  

Akhirnya, seorang hamba mesti menyadari miskin atau kaya adalah qodarulloh, adapun syukur dan sabar adalah tuntutan dari Rabb al alamin kepada hambaNya. Ya Alloh limpahkan kepada kami harta yang barokah, dan tetapkan dalam hati kami sifat qona’ah. Aamiin.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close