Akhlaq

Kelebihan dan Kemuliaan Bagi Orang yang Memiliki Sifat Amanah

Sekecil apapun kedudukan, ternyata membuat orang merasa gembira dan berbangga dengannya. Tidak salah memang, karena faktanya jabatan bisa membawa keuntungan pribadi, baik moril maupun meteril. Makin tinggi suatu jabatan makin besar pula potensi keuntungan yang akan didapatnya. Layak, banyak orang berambisi mengejarnya, dengan level dan kapasitas yang berbeda-beda.

Sayangnya sedikit diantaranya yang menyadari bahwa jabatan atau kedudukan adalah amanah, yang bila tidak mampu menjaganya bisa menjadi kehinaan dan penyesalan di kemudian hari. Sekecil apapun jabatan/amanah yang diembankan (meski hanya barang titipan) maka sesungguhnya kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Beliaupun bersabda:

“Kalian akan berambisi terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat, jabatan adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan” (HR. Bukhari)

Sungguh perumpamaan yang menarik

“Seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan”.

Ya, jabatan mungkin berbuah kenikmatan sebagaimana kenikmatan bayi saat menyusu, tapi juga melahirkan kegetiran saat kehilangan jabatan sebagaimana bayi menderita saat disapih dari susuannya. Lebih dari itu jabatan bisa menjadi penyesalan besok di hari kiamat, (diadzab karena khianat, atau setidaknya merasakan beratnya hisab).

Amanah

Menurut Mushtafa al-Maraghi: Amanah ialah segala sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang berupa perintah dan larangan baik dalam urusan agama maupun dunia. Adapun amanah dalam pengertian sifat maka ia adalah akhlak yang melekat dalam jiwa yang dengannya seseorang menjaga diri dari sesuatu yang bukan haknya, dan menunaikan hak orang lain yang ada padanya, walaupun ia mampu menguranginya. Darinya amanah setidaknya mengandung tiga unsur:

1. Menjaga diri dari sesuatu yang bukan haknya

2. Menunaikan kewajiban yang menjadi hak orang lain

3. Adanya perhatian penuh untuk menjaga sesuatu yang dititipkan kepadanya dengan tidak menyianyiakannya, melalaikannya, apalagi menguranginya.

Pendeknya, sifat amanah mengandung unsur kejujuran, terpercaya, tidak khianat, tidak menipu, dan tidak bersikap curang.

Bila menengok pengertian ini betapa beratnya mengemban amanah. Sedemikian beratnya amanah ini, layak bila Bilal bin Robbah melarikan diri, saat mendengar dirinya akan diangkat menjadi gubernur Yaman di masa Khalifah Umar bin Khotob. Layak bila Umar bin Abdul Azis justru badannya kurus dan beruban setelah menjabat khalifah. Layak bila Umar hanya berani makan roti kering, garam, dan minyak karena khawatir mengkhianati rakyat saat paceklik melanda, beliau tetap mengenakan pakaian bertambal meski Persia dan Romawi takluk di bawah kekuasaannya. Sekali lagi, itu semua karena takutnya mereka dengan amanah yang diembankan kepadanya.

Sifat Amanah Adalah Bukti Iman

Keberadaan sifat amanah dalam diri seseorang adalah bukti kebenaran imannya. Tanpa amanah, seakan iman hanyalah kepalsuan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak Amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji.” (HR. Ahmad).

Iman tanpa sifat amanah adalah kemunafikan, maka Beliaupun SAW bersabda:

“Empat hal, barang siapa dalam dirinya ada empat hal tersebut, maka dia adalah munafik tulen, dan barang siapa yang ada sebagian dari sifat itu, maka ada sebagian sifat nifak dalam dirinya hingga dia meninggalkannya. Yaitu: Jika dipercaya khianat, jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar dan jika bermusuhan (berseteru) dia jahat”. (HR. Bukhari & Muslim).

Jadi menunaikan amanah dan menepati janji merupakan sifat orang yang beriman. Sedangkan khianat, melanggar janji, tidak menepati konsekwensi perjanjian dalam jual beli, sewa menyewa, perseroan dan sebagainya merupakan sifat orang munafik

Amanah Adalah Sifat Para Nabi

Sifat amanah adalah sifat para rasul, manusia-manusia mulia disisi Rabbnya. Hal ini sebagaimana diabadikan di dalam Al Qur’an surat Asy Syu’ara (ayat 107, 125, 143, 162, dan 178) Nabi Nuh, Hud, Sholeh, Luth, dan nabi Syu’aib berkata kepada kaumnya: “Inni lakum rasulun amin” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”. Kata amîn (أمین ) tersebut ditafsirkan oleh Sayyid Quthub dengan tidak khianat, tidak menipu, tidak berbuat curang, dan tidak menambah atau mengurangi sedikitpun ajaran yang diperintahkan Allah untuk disampaikan.

Maka tatkala melekat dalam diri seseorang sifat amanah, berarti dia telah menghiasi di dalam dirinya sifat para rasul. Sifat manusia yang dicintai dan dimuliakan disisi Alloh Ta’ala.

Amanah Layak Mendapat Jabatan

Orang yang layak menduduki jabatan dan boleh dipercaya untuk mengemban satu urusan, adalah orang yang memiliki sifat amanah. Dengan sifat amanah dia layak mendapat sanjungan dan pujian. Dengan sifat amanah yang ada pada dirinya ia layak dijadikan teman dekat dan sahabat.

Kisah Puteri Nabi Syu’aib bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, tatkala ia mengusulkan kepada bapaknya untuk mempekerjakan Nabi Musa. “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:

“Wahai ayahku ambillah ia (Nabi Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah al qowwiyul amin”.” (QS. Al-Qashas : 26)

Musa layak dipekerjakan karena memiliki kriteria al qowwiyul amin. Al qowwiy berarti kuat, memiliki kecakapan, dan kapasitas untuk melaksanakan tugas. Adapun al Amin adalah dapat dipercaya, jujur, dan tidak khianat.

Amanah Penjaga Di Atas Shiroth

Diantara keutamaan sifat amanah adalah ia akan menjadi salah satu penjaga tatkala seorang hamba meniti di atas shiroth (satu jembatan yang dibentangkan di atas jahannam). Tentang ini Beliau bersabda di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam muslim:

“Dan diutuslah amanah dan silaturrahim hingga keduanya berdiri di kedua tepi shirath (jembatan), kanan dan kiri.” (HR Muslim)

Dari hadist ini, cukuplah seorang pendamba kemuliaan akhirat untuk berusaha menghiasi dirinya dengan sifat amanah. Karena dengannya ia telah memiliki satu jaminan keselamatan saat menyeberang diatas jahannam.

Amanah Syarat Masuk Jannatul Firdaus

Janatul firdaus adalah surga yang paling utama, diatasnya Arsyi-nya Ar Rahman, dari jannatul firdaus inilah mata air-mata air surga mengalir. Sungguh tempat yang mulia, derajat yang tinggi. Yang berhak memasukinya tentu pribadi-pribadi dengan karakter utama juga.

Dan di dalam QS Al mu’minun, Alloh Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela, barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”

Inilah kedudukan dan kemuliaan sifat amanah. Seorang muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat ini. Amanah akan menjadi kemuliaan bagi dirinya dan keberkahan bagi umat islam. Sebaliknya, bila setiap muslim telah mengabaikannya, maka tunggulah kehancurannya. Dan disia-siakannya amanah adalah tanda dekatnya kiamat. Wallohu a’lam bi showab.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close