Ibrah

Keberuntungan Bagi Orang yang Khusnul Khotimah

 

Puncak kesuksesan seorang hamba dalam kehidupan dunia bukanlah dari berapa banyaknya harta yang terkumpul, bukan pula dari tingginya jabatan yang bisa dicapai. Apalah artinya harta, apalah artinya jabatan bila kita meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

Keberhasilan seorang hamba bukan pula diukur dari berapa banyak sholat yang telah ditegakkan, berapa hari puasa yang telah dikerjakan, berapa juta infaq dan shodaqoh yang telah dikeluarkan, atau berapa kali haji dan umroh telah ditunaikan. Tetapi keberhasilannya adalah bila ia mampu istiqomah dalam kebaikan hingga ujung hidupnya.

Bukan berarti kini tidak perlu beramal, tetapi yang harus selalu diperjuangkan adalah akhir yang baik, ujung kehidupan berada di puncak iman, dan meninggal saat berada di puncak kedekatannya dengan Alloh Rabb Al ‘Alamin.

Jangan Mudah Kagum

Di dalam Musnad Ahmad, diriwayatkan bahwa Beliau bersabda: Janganlah kalian kagum dengan amal seseorang, sampai kalian melihat bagaimana akhir kesudahan orang tersebut. Karena sesungguhnya bisa jadi seseorang sepanjang umurnya atau di sebagian besar umurnya beramal dengan amal sholih, yang mana seandainya ia mati saat itu ia pasti masuk jannah, tetapi di ujung hidupnya ia berpaling dan beramal dengan amal yang buruk. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar sepanjang waktunya beramal dengan amal keburukan, seandainya ia mati di saat itu pasti ia masuk neraka. Ternyata (di ujung hidupnya) ia berpaling dan beramal dengan amal-amal kebaikan.

Sungguh nasihat yang berharga, bila terhadap orang lain saja kita dilarang mudah kagum dengan kebaikan yang nampak, tentu lebih terlarang lagi bila seseorang ta’jub dengan diri sendiri. Mungkin karena merasa telah beramal besar hingga ‘ujub-nya muncul. Atau merasa telah banyak beramal disepanjang hidupnya. Padahal jika Alloh menghendaki Alloh bisa membalik hatinya hingga diujung hidupnya justru beramal keburukan.

Sementara kitapun tidak boleh begitu saja menghinakan den merendahkan seseorang, apalagi memfonis seseorang sebagai ahli neraka karena melihat perbuatannya yang nampak saat ini penuh dengan keburukan. Bisa jadi Alloh membalik hatinya dan justru beramal sholih di ujung hidupnya. Maka Beliau ﷺ kemudian bersabda:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ِ

Dan jika Alloh menghendaki seorang hamba kebaikan maka Alloh akan mempekerjakannya sebelum kematiannya. Maka diantara sahabat bertanya: Bagaimana Alloh mempekerjakan seseorang? Maka Beliau bersabda: 

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْه

Yaitu Alloh memberikan taufik kepada seseorang untuk beramal sholih sebelum kematiannya.

Bukankah ini karunia yang besar, dipekerjakan oleh Alloh. Ya khusnul khotimah adalah karunia. Alloh mudahkan seseorang untuk tahajud, kemudian diwafatkan setelah menunaikannya. Seseorang dimudahkan untuk puasa, kemudian diwafatkan saat menahan hawa nafsunya. Sesorang dimudahkan untuk bershodaqoh, kemudian diwafatkan setelah membayarkannya. Dan berbagai amal sholih-amal sholih lain Alloh mudahkan penunaiannya kepada seorang hamba dan itu menjadi penutup kebaikannya di dunia. Subhanalloh Allohummakhtimlana bi khusnil khootimah.

Keberuntungan Besar

Betapa beruntungnya orang yang Alloh jadikan sebaik-baik umurnya adalah di penghujungnya, sebaik-baik amalnya adalah pungkasannya, dan sebaik-baik harinya adalah hari disaat bertemu dengan Rabbnya. Inilah Sang Pemenang, inilah orang yang berjaya. Betapa beruntungnya ia, betapa bahagianya ia.

Khusnul khotimah adalah karunia, bagian dari takdirNya. Meski demikian kita diperintah untuk berusaha menggapai khusnul khotimah ini. Ia akan didapat oleh orang yang merealisasikan tauhid dalam kehidupannya sehari-hari, yaitu menjadikan Alloh sebagai satu-satunya yang diibadahi, ditaati, dicintai, dan diagungkan.

Khusnul khotimah akan dikaruniakan kepada seorang hamba yang bertaqwa. Yang rasa takutnya menggiring untuk tunduk taat terhadap perintahNya, berusaha keras menjauhi laranganNya. Ia jaga tangannya dari berbagai kedzaliman, ia jaga matanya dari yang haram, ia jaga lisannya hingga tidak keluar kecuali yang baik, ia jaga badannya dari malas, enggan, apalagi penentangan terhadap perintahNya.

Khusnul khotimah akan diberikan kepada hamba yang istiqomah. Iman konsekuensinya ujian, makin tinggi iman makin besar pula ujiannya. Tapi hamba ini teguh meski dihantam gelombang kehidupan. Hamba ini tsabat meski dihempas berbagi musibah dan kesulitan. Sedih dan sakitnya tidak membuat surut. Lapang dan bahagianya tidak membuat lalai. Ia terus beramal, semaikin baik dan terus semakin baik… hingga ujung hidupnya adalah puncak imannya, amal terbaiknya.

Khusnul khotimah akan digapai oleh seorang hamba yang senantiasa memohon ampun kepadaNya. Lisannya senantiasa basah dengan istighfar. Mengakui segala kelemahan dan kekurangannya, menyadari betapa sedikitnya perbekalannya. Hamba yang ridho dengan taqdirnya. Hamba yang penyabar saat ujian menghadangnya, hamba yang bersyukur dengan semua karunianya.

Maka hamba yang khusnul Khotimah adalah hamba yang mampu berprasangka baik saat menghadapi kematian. Beliau bersabda:

Janganlah seseorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah. (HR. Muslim)

Maka hamba yang khusnul Khotimah adalah hamba senang berjumpa dengan Alloh sebagaimana sabda Beliau SAW:

Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. (HR Bukhari)

Adakah yang senang menghadapi kematian? Maka Beliau menjelaskan hadits diatas:

orang mukmin ketika dijemput oleh kematian, ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh ridha dan karamah Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia amat senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika dijemput oleh kematian, maka ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan siksa Allah, maka tidak sesuatu yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun tidak senang untuk bertemu dengannya. (HR. Bukhari, hadits shahih)

Saudaraku, kematian adalah kepastian. Jangan risau kapan dan dimana, tapi persiapkan dalam keadaan bagaimana engkau menghadap kepadaNya. Sungguh beruntung orang yang khusnul khotimah.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close