Khazanah

Kaya tapi Hina Layaknya Qorun

 

Faktanya banyak harta tidak otomatis menjadikan pemiliknya bahagia. Demikian pula kaya, tidak otomatis mendatangkan kemuliaan bagi penyandangnya. Apalagi bila ukurannya adalah kebahagiaan dan kemuliaan di akhirat. Bisa jadi sedikit orang kaya yang akan memetik buah kemuliaan dan kebahagiaan di sana.

Betapa beruntungnya 5 sahabat yang mulia (Utsman bin Affan, Tholhah Bin Ubaidillah, Zubeir bin Awwam, Abdurahman bin ‘Auf, dan Saad bin Abi Waqosh) tercatat sebagai konglomeratnya sahabat, dengan harta tinggalan triliunan (bila di kurskan dalam rupiah). Tetapi mereka juga penyandang 5 dari Al ‘Asroh mubasharuna bil jannah (sepuluh orang yang dijamin masuk surga). Subhanalloh… betapa beruntungnya. Di dunia kaya raya, di akhirat masuk surga. ini baru namanya kaya dan mulia.

Qorunisme

Sayangnya orang kaya yang mulia tidaklah banyak, kebanyakan justru sekedar mengikuti gaya hidupnya Qorun. Siapa Qorun?

Alloh Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Al Qoshos: 76).

Ibnu Juraij dalam tafsir Ibnu Katsir mengatakan bahwa Qorun adalah saudara sepupu Nabi Musa. Dia anak Yashub Ibnu Qahis sedangkan Musa putra Imran Ibnu Qahis. Qorun kaya raya, tetapi memiliki watak yang tercela. Dia suka menumpuk harta, serakah, sombong dan bangga diri, suka berbuat aniaya. Qotadah mengatakan bahwa Qorun mendapat julukan Al Munawwir karena suaranya yang bagus saat membaca kitab taurot, tetapi dia adalah musuh Alloh lagi munafik sebagaimana munafiknya Samiri.

Qorun merasa bahwa kekayaannya adalah dari kecerdasan dan kepinterannya. Dia mengingkari nikmat datangnya dari Alloh. Maka Alloh Ta’ala membinasakannya:

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS Al Qoshos: 81)

Kaya Tapi Hina

Kehinaan pertama orang kaya adalah ketika ia tidak mampu mengakui bahwa nikmat yang ia dapatkan datangnya dari Alloh. Dan tampaknya kebanyakan manusiapun demikian, saat kesuksesan datang ia merasa bahwa sukses itu adalah karena usahanya, kerja kerasnya, strategi bisnisnya, kecerdasannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” (QS Az Zumar: 49)

Kehinaan yang kedua adalah tatkala harta yang berlimpah tidak melahirkan rasa cukup dalam dirinya. Bahkan ia kian tamak dan rakus, senantiasa merasa kurang. Kebahagiaan apa yang bisa dirasakan dari seorang hamba yang tidak memiliki rasa cukup dengan apa yang dia miliki. Ia diperbudak harta, tidak pernah merasa puas, dan  diliputi kehinaan.

Beliau SAW bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)

Kehinaan yang ketiga adalah bila kekayaan yang dimiliki justru mendorong seorang hamba untuk durhaka kepada yang memberi nikmat. Diantara kemaksiatan, ada yang tidak dapat terwujud tanpa harta. Dan faktanya, ketika seseorang telah tercukupi kebutuhan pokoknya, maka ia akan berfikir untuk menikmati perkara lain dari harta yang dimilikinya. Sampai akhirnya ia tidak puas jika belum melakukan apa yang diharamkan oleh Alloh.

Kehinaan yang keempat adalah ketika kekayaan  mendorong seseorang untuk bernikmat-nikmat dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. Ia tidak cukup makanan ala kadarnya, tidak cukup fashion seperti orang kebanyakan. Ia memilih komunitas di kalangan orang-orang berharta, menjaga image dan eksistensinya disana. Hingga perlahan-lahan ia masuk ke wilayah syubhat, dan perlahan-lahan terjatuh kepada perkara haram.

Kehinaan yang Kelima yaitu bila ternyata harta membuat kebanyakan orang lupa dari mengingat Alloh. Hatinya disibukan dengan harta yang dimilikinya. Disibukkan dengan memikirkan berbagai cara untuk menambah dan mengamankan hartanya. Berbagai strategi untuk menumbuh kembangkan hartanya. Hingga waktu dan tenaganya habis untuk kekayaannya, tidak ada bagian untuk ibadah kecuali sisa.

Kesombongan karena Harta

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Inilah kesombongan Namruj hingga ia melawan dakwah tauhid Nabi Ibrahim AS. Inilah kesombongan Fir’aun hingga ia menolak dan memerangi  Nabi Musa AS. Ini pula kesombongan Qorun, Kaum Nuh, Kaum Luth, Kaumnya Nabi Syu’aib, Kaum Quraisy, dan para penentang syari’at Alloh di berbagai penjuru dunia di sepanjang jaman. Kekuasaan, banyaknya pengikut, dan kekayaan yang mereka miliki justru melahirkan kesombongan.

Bukankah ini berarti kekayaan justru bisa menjadi sebab bencana dan kehinaan?  Karena kesombongan semacam inilah yang dikabarkan oleh Baginda Nabi sebagai faktor kuat yang menghalangi seseorang untuk masuk jannah:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”

Muhasabah

Bagaimana dengan kita? Kayakah kita? Sudahkah kekayaan kita melahirkan ketundukan dan ketaatan terhadap syari’atNya?

Atau, merasa kekayaan yang diraih adalah karena kecerdasan dan kerja keras kita? Sehingga kita layak berbangga dengannya? Meremehkan manusia lain? Memunculkan ego dan merasa benar sendiri? Angkuh dan enggan menerima nasihat? Merasa tidak layak bergabung dengan orang kebanyakan di majelis ilmu?

Jika iya, maka kekayaan yang kita miliki hanyalah jalan yang mengantar pada kehinaan. Na’udzubillah

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close