Puasa

Harapan di Bulan Syawal

Ramadhan berlalu, tentu tidak bisa diundur diulang kembali. Ibarat tamu telah pergi, segala sambutan yang telah kita sajikan itulah kesan yang terabadikan. Mungkin menyesal karena tidak memuliakan dengan segenap kemampuan. Mungkin banyak udzur, hingga kita tidak mampu mencurahkan segenap penghormatan.

Sedih…tentu. Tapi larut dalam kesedihan tentu bisa jadi kegagalan kedua. Pantang, seorang muslim gagal untuk kedua kalinya. Mungkin saatnya pancangkan tekad lagi, sambut Syawwal penuh harapan dan semangat. Kemuliaan, keutamaan, dan pahala tidak cuma ada di bulan Ramadhan. Bahkan keutamaan lebih besar bisa kita dapatkan in syaa alloh.

Pahala Tergantung Kesulitan

Mampu beramal besar di bulan ramadhan, boleh dikata perkara yang wajar. Maklum di bulan itu pintu jannah dibuka, artinya manusia memang dimudahkan oleh Alloh untuk melakukan amalan penghuni jannah. Di bulan itu pintu neraka ditutup, hingga manusia dipersempit kesempatannya melakukan perbuatan maksiyat. Bahkan syetan di belenggu, artinya nyaris tidak ada kekuatan yang menghambat seorang hamba untuk melakukan berbagai amal kebaikan.

Beda dengan bulan syawwal, tiga keutaman diatas tidak lagi didapat. Artinya berbuat baik di bulan syawwal tantangannya jauh lebih besar. Bisa jadi kita berpuasa di saat orang-orang tengah makan minum, sholat malam saat orang lain sedang pada tidur. Belum lagi setan tdak lagi dibelenggu, hingga ia bebas menghembuskan rasa malas, menghalangi, atau dengan tipu dayanya merusak amal baik kita.

Sementara, bukankah ‘inna ‘idhomil jaza ma’a ‘idhomil bala’ (sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung dari besarnya kesulitan)? Artinya, kian besar tantangan untuk beramal berarti makin besar pula pahala yang akan didapat.  

Pancangkan Niat!

Yo kembali pancangkan niat, raup keberkahan bulan syawwal. Bertekadlah untuk tetap sholat jama’aah di saat orang tengah sibuk. Bahkan tetap mampu mendapatkan takbir pertama bersama imam. Dan dapatkan fadhilahnya:

Barang siapa sholat (lilah) secara berjamaah selama empat puluh hari, dengan mendapat takbir yang pertama bersama imam, maka dicatat baginya dua pembebasan. Bebas dari api neraka dan bebas dari sifat munafik (HR Tirmidzi)

Bertekadlah di bulan syawwal tetap mampu berpuasa di saat orang makan dan minum, yaitu dengan puasa enam hari di bulan syawwal. Dan dapatkan kabar gembira, karena Beliau bersabda:

Sungguh, tiada seorangpun yang shaum di saat orang-orang di sekitarnya makan, melainkan para malaikat bersholawat kepadanya hinggamereka beranjak darinya (HR Ibnu Majah, dengan sanad Jayyid).

Syaikh Ahmad Abdurahman dalam syarahnya mengatakan:

Ungkapan malaikat bersholawat maksudnya memintakan ampun baginya berkat kesabarannya menahan lapar padaha makanan tersedia dihadapannya, lebih-lebih jika ia menyukai hidangan tersebut hingga shaumnya terasa semakin berat.

Dan Beliau Sholallohu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan syaawal maka seakan ia puasa sepanjang tahun (HR Muslim).

Bertekadlah untuk tetap qiyamul lail di Bulan Syawwal, sholat malam disaat orang-orang pada tidur. Dan sungguh keutamaannya sedemikian besar. Sebagaimana sabda Beliau Sholallohu ‘alaihi wassalam:

Wahai manusia, sebar luaskanlah salam, berilah orang makan, dan sholatlah di saat orang-orang sedang tidur niscaya kalian masuk surga dengan selamat (HR Tirmidzi).

Masuk surga dengan selamat, ungkapan yang menunjukan kemulian tersendiri. Karena sebelum masuk jannah sungguh sedemikian banyak penderitaan yang akan dihadapi. Manusia menghadapi dahsyatnya mahsyar, matahari didekatkan hingga tenggelam oleh keringatnya. Manusia akan menghadapi dahsyatnya hisab, dahsyatnya meniti shiroth, jembatan yang dibentangkan diatas jahannam. Maka beruntunglah orang yang masuk jannah tanpa mengalami penderitaan itu semua.

Silaturahim

Suasana awal bulan Syawwal terkadang sungguh melalaikan. Orang sibuk berkunjung ke sanak famili.  Hingga lalai dengan kewajiban yang lebih utama. Dari situ pancangkan tekad, bahwa kunjungan kita di bulan syaawal harus bernilai silaturahim, murni mencari ridho Alloh, menyambung kekerabatan, mengeratkan persaudaraan. Bukan sekedar menjalani adat kebiasaan.

Sungguh kunjungan ke tempat kerabat, dengan niat yang tulus adalah amal yang utama, hingga dijanjikan dengan rahmat dan kasih sayangNya. Tentang ini Beliau Sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda, bahwa Alloh Ta’ala berfirman:

Siapa yang menyambung rahimNya, maka Aku sambung kasih sayangKu kepadanya, siapa yang memutus rahimnya maka akupun memutus rahimKu kepadanya. (Hr Muslim).

Dan ‘Sang Penyambung’ bukanlah orang yang membalas kunjungan saudaranya dengan balik mengunjunginya. Bukan pula orang yang membalas kebaikan saudaranya dengan balik berbuat baik kepadanya. Akan tetapi ‘sang penyambung’ adalah orang yang diputus persaudaraanya tetapi ia mau mengunjunginya. Sang penyambung adalah orang yang dibenci saudaranya, tetapi ia balas dengan berbuat baik kepadanya. Mampukah syawwal ini kita berbuat demikian?

Bila mampu berbahagialah! Karena Beliau Sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

Siapa yang ingin diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah kekerabatan (Silaturahim) (HR Tirmidzi).

Evoria Syawwal

‘Idul Fithri’ lebih tepat bermakna ‘hari kembali berbuka’. Karena kata Fithri (Fa tha dan ro) diambil dari kata ifthor yang artinya berbuka. Adapun bila dimaknai ‘suci’ mestinya bukan Fithri tetapi fithrah (fa tho ro dan ta marbuthoh). Maksudnya hari kebali berbuka (tidak puasa) setelah satu bulan menjalankan puasa ramadhan.

Saat dimaknai ‘kembali suci’, yang muncul adalah perasaan puas, menang, bangga. Hingga mungkin memunculkan perasaan cukup dengan pahala dan kebaikan yang telah didapat. Wal hasil kadang syawwal dimaknai sebagai bulan istirahat setelah lelah dengan banyak amal di bulan ramadhan. Saat mengendorkan syaraf, setelah satu bulan ditahan untuk tidak berbuat maksiat. Saat refreshing dan menghibur diri, setelah sebulan menjauhi berbagai perbuatan yang sia-sia. Layak bila tawaran yang kemudian muncul di baliho-baliho: “Pesta Kemenangan, Bersama OM XXX”, atau “Gebyar Syawwal, Goyang Dahsyat 1438 H”. La haula wala quwwata illa billah…

Dari situ bertekadlah! Syawwal ini harus tetap mampu menjaga mata, menjaga hati, menjaga diri dari dosa dan maksiat. Maka kemuliaan yang akan kita dapat. Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close