Khazanah

Hakikat Kekayaan dan Kemiskinan

Apa yang  tengah kita kejar dalam hidup ini: kebahagiaan ataukah kekayaan? Mungkin sulit dijawab karena serasa keduanya sulit dipisahkan. Tapi coba renungkan catatan berikut:

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api. Michael Jackson, penyanyi terkenal dari USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis. G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya. Dan tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga mati overdosis.

Ternyata banyak harta tidak identik dengan bahagia, miskin tidak identik dengan sengsara. Jika kebahagiaan bisa dibeli dengan harta, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.

Artinya yang harus dikejar dalam hidup ini adalah ‘bahagia’. Dan seorang muslim mengukur kebahagiaan tentu dalam dimensi yang luas yaitu tidak cuma bahagia di dunia tetapi juga bahagia di akhirat. Dari sini maka kedudukan harta hanyalah sarana. Dan bila harta hanya sarana, maka meraihnya tidak boleh dengan mengabaikan kebahagiaan itu sendiri. Maksudnya yaitu harta didapat, tetapi justru dibayar dengan hilangnya kebahagiaan itu sendiri.

Maka seorang muslim harus mampu mendifinisikan kembali makna kaya, hingga nantinya ia mampu pula merengkuh hakikat bahagia.

Hakikat Kaya

Islam memandang kekayaan tidak selalu diukur dengan banyaknya harta dan besarnya angka-angka materi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaknai hakikat kaya adalah keluasan hati seorang hamba. Seorang hamba yang mampu menekan hawa nafsunya, bersikap menerima, dan mensyukuri apa yang ada, itulah kaya. Maka Beiau bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (Hadis riwayat Bukhari & Muslim).

Menjelaskan hadits diatas, Ibnu Baththal berkata, “Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang hakiki bukan pada harta yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya hingga ia tidak peduli lagi dari mana harta itu didapatkan. Orang yang seperti itu pada hakikatnya adalah orang miskin, disebabkan ambisinya yang sangat besar.”

Oleh karena itu kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. Orang yang merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak terlalu berambisi untuk menambah hartanya dan terus-menerus mencarinya, maka berarti ia orang yang kaya. Senang atau sedih, bahagia atau sengsara, pangkalnya ada dalam hati bukan pada banyak sedikitnya harta yang dimiliki.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, maka Allah akan menghancurkan kekuatannya, menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah Allah takdirkan. Dan barangsiapa akhirat adalah tujuannya, maka Allah akan menguatkan urusannya, menjadikan kekayaannya pada hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. (HR Ibnu Majah)

Belajar Dari Keluarga Nabi

Ibunda Aisyah berkata kepada ‘Urwah,

Wahai putra saudariku, sungguh kita dahulu melihat hilal kemudian kita melihat hilal (berikutnya) hingga tiga hilal selama dua bulan, akan tetapi sama sekali tidak dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka aku (Urwah) berkata, “Wahai bibiku, apakah makanan kalian?”, Aisyah berkata, “Kurma dan air (HR Al-Bukhari dan Muslim)

‘Athoo’ Al-Khurosaani rahimahullah berkata :

Aku melihat rumah-rumah istri-istri Nabi terbuat dari pelepah korma, dan di pintu-pintunya ada tenunan serabut-serabut hitam.

Saat rumah Beliau hendak dimasukan ke areal masjid di jaman khlaifah Walid bin Abdul Malik, maka Sa’iid bin Al-Musayyib berkata:

Sungguh demi Allah aku sangat berharap mereka membiarkan rumah-rumah Rasulullah sebagaimana kondisinya, agar jika muncul generasi baru dari penduduk Madinah dan jika datang orang-orang dari jauh ke kota Madinah maka mereka akan melihat bagaimana kehidupan Rasulullah, maka hal ini akan menjadikan orang-orang mengurangi sikap saling berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta dan sikap saling bangga-banggaan

Dan Nabi pernah bersabda:

Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?”. Aku (Abu Dzar) berkata : “Iya Rasulullah”. Rasulullah berkata : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?”, Aku (Abu Dzar ) berkata, “Benar Rasulullah”. Rasulullahpun berkata : “Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki-pen) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki-pen) adalah miskinnya hati (HR Ibnu Hiban)

Sepeninggal Beliau SAW kondisi Ibunda Aisyah pun tidak berubah, menjadi wanita yang kaya meski tidak banyak harta. Diriwayatkan bahwa Ibunda Aisyah pernah membagi-bagi harta dalam satu hari senilai 180 ribu dirham (1 dirham= Rp 67.000,-). Saat sore hari tiba, dia berkata kepada pembantunya:

Wahai Ummu Darroh mana hidangan buka puasaku?” Maka pelayan menyajikan roti dan minyak. Maka Ummu Darroh berkata: “Mengapa engkau tidak menyisihkan satu dirham saja dari apa yang engkau bagi hari ini untuk membeli makanan berbuka?” Ibunda Aisyah menjawab: “Kalau saja engkau mengingatkanku, niscaya aku lakukan

Seperti itulah orang kaya yang sesungguhnya, meski rumah sederhana, harta tidak seberapa, kehidupannya bersahaja tetapi hatinya senantiasa merasa cukup, pantang berkeluh kesah, bahkan selalu ingin berbagi dengan sesama saat harta tiba. Subhanalloh…Ya Alloh karuniakan kepada kami hati yang kaya…

Hakikat Miskin

Maka orang yang miskin sesungguhnya adalah orang yang banyak hartanya tetapi hatinya senantiasa merasa kurang. Ambisinya terus menerus menumpuk harta. Tujuan hidupnya hanyalah berlomba mengejar kekayaan, memuaskan keinginan. Ia bakhil dengan apa yang dimiliki, ia enggan berbagi. Bahkan iapun tidak peduli dari mana harta di dapatkan.

Benarlah bila Rasulullah berksabda:

Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki-pen) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki-pen) adalah miskinnya hati (HR Ibnu Hiban).

Wallohua’lam bi showab 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close