Ukhuwah

Hak – hak dalam Ukhuwah yang Harus Kita Pahami

 Apa sih artinya persaudaraan? Faktanya, saat kita susah juga tidak ada yang peduli, sebaliknya saat kita senang justru orang pada dengki”, mungkin kita sering mbathin demikian. Ukhuwah terasa hambar, persaudaraan seakan tanpa makna. Bahkan terkadang yang kita anggap saudara justru lebih tega dari ‘wong lia’ (bukan saudara).

Secara bahasa ukhuwah artinya persaudaraan. Maknanya tentu bukan sekedar pengakuan bahwa dia adalah saudara, tetapi lebih dari itu ukhuwah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Alloh kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong, saling pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain. Dan semua itu muncul karena Alloh semata.

Renungkanlah makna ukhuwah diatas! Bila faktanya ukhuwah hambar dan tanpa makna berarti ukhuwah yang ada belum tegak diatas pondasi iman, dan kita belum melaksanakan tuntutan dan konsekuensi dari persaudaraan itu sendiri.

Tidak mudah memang menyatukan hati dalam persaudaraan, layak bila Alloh Ta’ala berfirman:

Dan (Dia-lah) yang mempersatukan hati orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alloh telah mempersatukan hati mereka.  Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  (QS. Al Anfal [8]: 63).

Artinya persaudaraan itu sendiri adalah nikmat yang Alloh berikan kepada hambanya. Sebagaimana firmanNya:

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Alloh dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali Imran [3]: 103).

Agar ukhuwah bermakna dan berasa nikmatnya maka masing-masing  individu harus berupaya menunaikan hak saudaranya. Diantara hak-hak persaudaraan adalah:

Ditutup Aibnya

Setiap orang pasti memiliki aib (kekurangan berupa dosa dan masiat yang pernah dilakukan), selama ia tidak melakukannya secara terang-terangan maka ia memiliki hak untuk ditutupi aibnya, tidak dibeberkan apalagi disebar luaskan.

Menutup aib saudara termasuk amal mulia, dengannya memunculkan kepercayaan terhadap saudaranya. Yang mana hal ini adalah pilar ukhuwah itu sendiri. Dan Beliaupun mengabarkan keutamaan besar dari sikap ini sebagaimana sabdanya:

Barang siapa yang menutup aib seorang muslim maka Alloh akan menutupi aibnya baik di dunia maupun di akhirat (HR Muslim).

Sebaliknya mudah membeberkan aib saudara adalah perusak ukhuwah, memunculkan keresahan dan perpecahan. Maka Beliaupun bersabda:

dan janganlah kalian mencari-cari aib saudara sesama muslim! Karena barang siapa mencari-cari aib saudaranya msulim maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan barang siapa dicari aibnya oleh Alloh, maka aib itu akan ditampakannNya meskipun kemaksiatan yang dilakukan drumahnya (HR Abu Dawud)

Dijaga Kehormatannya

Menggunjing, menjatuhkan harga diri orang lain terkadang terasa nikmat. Sesama muslimpun kadang demikian. Kejelekan atau kekurangan orang, dijadikan komoditi berita. Bak wartawan yang mencari berita kemudian viral ditebar kemana-mana. Kita yang menerima beritapun menikmatinya bahkan menambahinya. Tak pelak harga diri seorang muslim dijatuhkan, di bully, hingga dicibir banyak orang. Lalu dimana nilai persaudaranya?

Mestinya saat seorang muslim dijatuhkan, muslim yang lain membelanya hingga persaudaraan menjadi berasa dan bermakna. Belajar dari Muadz bin Jabal, saat perang Tabuk Beliau SAW duduk di hadapan banyak orang kemudian bertanya:

Ada apa dengan Kaab bin Malik?” (Kaab bin Malik kebetulan absen tidak ikut berangkat ke perang Tabuk). Seorang dari Bani Salamah kemudian menjawab: “Wahai Rasululloh, ia tertahan oleh istri dan kebunnya” (bermaksud menjatuhkan harga diri Kaab). Maka Muadz bin Jabal pun menyahut: “Alangkah buruknya perkataanmu itu. Demi Alloh wahai Rasululloh, kami tidak pernah melihat pada dirinya selain kebaikan”. (HR Muslim)

Demikianlah akhlak seorang muslim mestinya salaing menjaga kehormatan antara yang satu dengan yang lain. Bukan sebaliknya malah senang mencari aib saudaranya dan suka menjatuhkan martabat saudaranya.

Dimaafkan Kesalahannya

Sifat pemaaf termasuk pilar persaudaraan. Tanpa sifat pemaaf, persaudaraan mudah retak, pecah, dan tercerai berai. Karena faktanya kedekatan kadang melahirkan gesekan. Ucapan yang tidak berkenan, sikap orang yang merugikan dan mendzalimi, ini semua memunculkan ganjelan.  kadang ganjelan membuat marah dan dendam. Dendam menyisakan kebencian.

Maka sifat pemaaf adalah obatnya. Ia lapang dada terhadap kesalahan orang lain, toleran terhadap kekhilafannya, bahkan mungkin tetap mampu bersikap santun terhadap saudaranya yang salah. Dan syariatpun memujinya, hingga Beliau bersabda:

Sedekah tidak akan mengurangi harta, tidaklah seorang hamba mau memaafkan saudaranya, kecuali Alloh akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seorang tawadhu’ karena Alloh kecuali Alloh akan mengangkat derajatnya (HR Tirmidzi)

Diperlakukan Ikhsan

Termasuk hak ukhuwah adalah memberikan saudara dengan berbagai macam kebajikan. Dari sekedar senyum, hingga santun dalam bertutur kata. Dari saling mengunjungi, hingga saling memberi hadiah diantara mereka. Dari mengutamakan dalam penawaran kepada saudara saat hendak menjual barang, hingga meringankan hutang saudaranya atau menangguhkannya. Ini semua akan mempererat persaudaraan dan menguatkan makna ukhuwah.

Termasuk hak ukhuwah juga adalah tidak mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, berterima kasih saat mendapat perlakuan baik, memanggil dengan panggilan yang disukainya. Ini pun bumbu persaudaraan hingga dengannya ukhuwah terasa nikmat dan lezat.

Menjaga rahasia/amanah saudara, tidak berlaku curang terhadapnya, tidak mengkhianatinya dalam muamalah, ini semua termasuk adab yang mesti diperhatikan. Hingga saudara merasakan loyalitas, kecintaan dan kesetiaannya.

Mendapat Nasihat

Menurut Al Khathabi, nasihat adalah ungkapan yang mewakili sejumlah keinginan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang yang dinasehati.

Betapa indahnya bila sesama muslim demikian, saling manasehati agar saudaranya menjadi baik atau menjadi lebih baik. Dia ingin saudaranya  masuk surga, sebagaimana  diapun ingin masuk surga. Maka saat melihat keurangan pada saudaranya, kesalahan yang diperbuatnya, iapun berusaha menasehatinya. Nasehat yang didasari rasa kasih sayang dengan cara yang santun dan hikmah. Subhanalloh

Inilah diantara hak ukhuwah, menunaikannya berarti kita telah berupaya mengeratkan ukhuwah. Wallohu musta’an.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close