Ukhuwah

Bahaya Memutuskan Silaturahmi

Hubungan nasab tidak menjamin terjalinnya ukhuwah diantara kerabat yang ada. Tidak sedikit antar kerabat, justru yang mendominasi rasa su’udzon (buruk sangka), hasad/dengki (tidak senang melahat kerabat lain senang), bahkan tidak jarang saling menjatuhkan dan bermusuh-musuhan. Yang fatal bila hal ini terjadi antara anak dengan orang tuanya.

Banyak faktor yang melatar belakangi tidak harmonisnya hubungan antar rahim, diantaranya kecemburuan antara kerabat dalam urusan harta warisan. Harta waris yang dibagi tidak adil diantara anak sering menjadi pemicu retaknya hubungan antara kerabat yang ada. Hingga ada yang enggan bertatap muka, ada yang diam seribu bahasa saat berjumpa, bahkan ada yang mendendam dan ingin mencelakakan saudara sendiri.

Faktor yang lain adalah beda pemahaman dalam masalah agama. Mengingat ikatan diniyah adalah ikatan yang paling kuat, maka tak jarang beda pemahaman dalam masalah agama menjadi sebab retaknya hubungan kekerabatan.

Faktor yang lain adalah egoisme (sibuk dengan kepentingan sendiri) cuek dengan problematika yang tengah dihadapi saudaranya. Hal ini pun sering memicu retaknya hubungan kekerabatan.

Meninggalnya kedua orang tua juga sering menjadi sebab jauhnya hubungan kekerabatan. Orang tua ibarat tali pengikat antara anak dengan anak lain. maka ketiadaan orang tua seakan lepas sudah tali pengikat hubungan nasab. Belum lagi bila anak-anakpun sudah memiliki kesibukan dengan keluarganya sendiri. Makin lengkap alasan untuk jauh dengan kekerabatan yang ada.

Faktor yang lain, adalah adanya an namam (tukang hasut), yang suka memecah belah hubungan keluarga. Dia datang ke satu kerabat dengan menjelekan kerabat lain, kemudian datang ke kerabat lain dengan membawa aib kerabat lain pula. Layak bila Yahya Bin Abi Katsir berkata:

Tukang mengadu domba dan tukang bohong dalam waktu sesaat itu bisa merusak masyarakat yang jika dilakukan tukang sihir memerlukan waktu setahun”.

‘Sang Pemutus’

Qhoti’un (‘Sang Pemutus’) adalah orang yang memutus hubungan kekerabatan. Enggan mengunjunginya, enggan membantu kesempitan saudaranya, mendiamkan saudara, saling benci dan bermusuhan, serta tidak punya tekad untuk menyambung kekerabatan.

Pemutus rahim terberat adalah memutus silaturahim dangan orang tuanya sendiri. Karena orang tua adalah yang paling berhak disambung silaturahimnya. Anak wajib merawatnya, menafkahinya bila tidak mampu, dan menyampaikan berbagai kebajikan yang lain sebelum kepada selainnya.

Kehinaan Bagi ‘Sang Pemutus’

‘Sang pemutus’ terancam laknat Alloh Ta’ala sebagaimana FirmanNya:

Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)

‘Sang pemutus’ terancam terhalang hidayah, hal ini sebagaimana firmanNya:

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al Baqoroh : 26-27)

‘Sang pemutus’ terancam tidak masuk jannah. Tentang ini Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak akan masuk Surga orang yang memutus silaturahim”. (HR. al-Bukhari)

Memutus silaturahim termasuk jenis dosa yang disegerakan balasannya di dunia. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Sunan Abu Daud: bahwa Beliau SAW bersabda:

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia bersama dengan adzab yang ditangguhkan (tersimpan) baginya di Akhirat, selain dosa kedhaliman dan memutus tali shilatur rahim.

Bara api bagi ‘Sang Pemutus’. Tentang ini Abu Hurairah berkata,

Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim)

Memutus Rahim dengan Orang Kafir?

Imam Adz Dzahabi memasukan memutus silaturahim sebagai salah satu dari 70 Dosa-dosa besar. Lalu bagaimana bila diantara kerabat ternyata bukan seorang muslim? Haruskah kita menyambung kekerabatan denganNya?

Silaturahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan mejauh dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut -dalam kondisi demikian- dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Abi Jamrah berkata :”Jika mereka itu orang-orang kafir atu suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih membandel. Kemudian, hal itu (pemutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo’akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.

Antara Sang Pemutus Dan Sang Penyambung

Tengoklah betapa mulianya akhlaq Sang Penyambung betapa besar pula keutamaan yang didapatkan. Sebaliknya betapa hinanya ‘Sang Pemutus’ dan betapa dahsyat pula ancamannya.  Maka jadikan momen Syawwal sebagai titik tolak untuk memperbaiki hubungan rahim yang retak, bersilaturahimlah dengan niat ibadah!

Lapang dadalah untuk memaafkan! Berendah hatilah untuk minta maaf, penuh dengan ketulusan. Semoga menjadi awal yang baik untuk memperbaiki hubungan. Wallohua’lam bi showab..

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close