Akhlaq

Bahaya dan Efek Sifat Khianat

Meski dengan kapasitas yang berbeda-beda, sesungguhnya setiap orang memikul beban amanah. Dari sekedar dititipi harta untuk orang yang berhak, hingga diserahi sejumlah anggaran untuk dibelanjakan. Dari sekedar amanah dalam skup keluarga, hingga amanah untuk mengurusi negara. Semuanya sama, menuntut kesungguhan untuk dijaga, dan sekecil apapun amanah akan dimintai pertanggungjawabannya.

Khianat adalah lawan dari amanah. Khianat bisa berarti sikap tidak bagusnya seseorang ketika diberi kepercayaan. Ini perbuatan nista, hingga Alloh Ta’ala pun dengan tegas melarangnya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS. Al Anfal: 27).

Cakupan khianat sedemikian luas. Tidak sungguh-sungguh melaksanakan tugas termasuk bentuk khianat, apalagi bersiasat melakukan tipu daya dan penyelewengan. Tidak menjaga barang titipan dengan baik adalah khianat, apalagi melakukan pengurangan dan penghilangan. Ditiipi rahasia juga amanah, yang mestinya dijaga dan tidak disebar luaskan. Jual beli adalah amanah yang semestinya tidak berbuat khianat berupa kecurangan. Hutang piutang adalah amanah, jangan sampai berkhianat dengan pengingkaran atau setidaknya menunda-nunda pembayaran. Dari sini, sebenarnya setiap kita berpeluang berbuat khianat.

Motif Pengkhianatan

Banyak faktor yang melatarbelakangi perbuatan khianat. Diantaranya adalah lemahnya iman, yaitu sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatannya sekecil apa pun.

Faktor yang lain adalah kebodohan. Sebagian orang mungkin tidak faham tentang haramnya perbuatan curang, atau tidak faham rincian bentuk-bentuk kecurangan. Hingga iapun merasa apa yang dilakukannya adalah sah-sah saja. Apalagi dia berada di lingkungan atau komunitas yang memang terbiasa dengan perbuatan curang dan khianat, akhirnya iapun mengira bahwa apa  yang dilakukannya adalah benar, sudah biasa, atau hal ‘lumrah’.

Faktor yang lain hingga munculnya khianat adalah sifat tamak (rakus) yang ada pada diri seseorang. Ambisi untuk mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan. Dalam kasus ini, meski dia faham halal haram, dia faham keburukan khianat, tidak mencegahnya untuk berbuat khianat. Kefahamannya dikalahkan kerakusannya, imannya dikalahkan hawa nafsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak lagi mempedulikan apa yang didapatkannya, dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari)

Termasuk faktor penyebab terjadinya khianat adalah sistem yang buruk. Sistem yang penuh dengan tipu daya dan kecurangan akan membentuk unsur-unsur yang ada didalamnya berbuat khianat. Hingga menjadi lingkaran setan yang sulit untuk dihentikan. Sistem semacam ini pernah dikabarkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Di masa itu orang yang jujur didustakan, pendusta malah dipercaya. Orang yang amanah di anggap khianat, pengkhianat malah dianggap amanah…”(HR. Ahmad)

Kehinaan Bagi Pengkhianat

Kesadaran bahwa khianat berakibat buruk bagi pelakunya, termasuk perkara penting hingga seseorang dapat mencegah dirinya dari akhlak nista ini. Dan diantara dampak buruk sifat khianat adalah:

  1. Khianat Menjatuhkan Martabat

Tengoklah betapa banyak orang yang mulia menjadi hina karena khianat. Pejabat dipecat karena khianat. Pedagang dijauhi pelanggan karena khianat. Karyawan dimutasi karena khianat. Yang jelas khianat menjatuhkan martabat, harga diri, dan wibawa seseorang. Hilang kepercayaan masyarakat kepadanya. Ini semua sudah cukup menjadi hukuman berat, bagi orang yang hidup hatinya.

  1. Khianat bukan watak orang beriman

Iman ditandai dengan sifat amanah yang melekat pada dirinya, tanpanya seseorang kehilangan sifat yang merupakan kekhususan bagi orang yang beriman. Dan Beliau bersabda:  

Tidak akan berkumpul antara iman dan kufur dalam hati seseorang, tidak akan berkumpul kejujuran dan kebohongan semuanya, dan tidak pula berkumpul khianat dan amanat semuanya. (HR. Ahmad).

Beliau Juga bersabda: 

Orang mu`min dibentuk dengan semua watak kecuali khianat dan dusta.  (HR. Ahmad).

Iman tanpa amanah adalah kepalsuan atau kemunafiqan, maka Beliau bersabda: 

Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen. Yaitu orang yang jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, jika diberi amanat dia khianat dan jika berseteru dia curang. Dan barangsiapa yang ada padanya salah satu dari sifat tersebut, maka berarti dia memiliki salah satu sifat diantara sifat munafiq hingga dia meninggalkannya. (HR. Muslim)

  1. Khianat mencabut keberkahan

Aku adalah orang yang ketiga dari dua orang yang bersekutu, selama salah satunya tidak mengkhianati temannya (Diriwayatkan Al Khathib, dari Abu Hurairah, dengan sanad hasan).

Ini berarti selama kerja sama antara dua orang tidak ada perbuatan khianat maka Alloh akan senantiasa memberi perindungan dan pertolongan kepada mereka.

Amanah juga melahirkan keberkahan, sementara khianat mencabut keberkahan tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Kedua penjual dan pembeli berada dalam kebaikan selama mereka tidak berpisah satu sama lain. Maka jika keduanya jujur dan saling memberikan keterangan dengan jelas, semoga jual belinya diberkahi. Namun, jika keduanya dusta dan ada yang saling disembunyikan, hilanglah berkah jual beli keduanya. (Bukhari & Muslim)

  1. Khianat kehinaan di akhirat

Dan akhirnya sifat amanah atau kebalikannya (khianat) keduanya menentukan kemuliaan atau kehinaan seseorang besok di yaumil akhir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:

Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir kelak di hari Kiamat, maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, ‘Ini adalah bendera si fulan bin fulan (HR. Muslim)

Di hari Kiamat kelak setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dikibarkannya tinggi-tinggi sesuai dengan kadar pengkhianatannya. Ketahuilah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan seorang penguasa terhadap rakyatnya. (HR. Muslim)

Inilah kehinaan sifat khianat, menjauhinya adalah kebahagiaan, ketenteraman dan kemuliaan. Tidak mengkhianati orang yang mengkhianati kitapun satu perkara yang utama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah engkau mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu. (HR. Ad Darimi, shahih)

Sungguh jiwa ini lemah, suka condong kepada kemungkaran. Beliau Sholallohu Alaihi Wassalam pernah berdo’a:

Ya Alloh aku berlindung kepadamu dari kelaparan, sebab itu adalah seburuk-buruk teman tidur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat khianat, sebab itu adalah seburuk-buruk perkara dalam hati. (HR. An Nasa’i, hasan shohih).

Maka kita memohon kepada-NYa agar dikaruniai akhlaq yang bagus, prilaku amanah dan terlindung dari sifat khianat.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close