Akhlaq

Bagaimana Cara Bertaubat yang Diterima bagi Para Koruptor ?

Khianat ataupun korupsi, termasuk dosa yang dimurkai. Sistem yang buruk, kecurangan yang membudaya dan melembaga bisa jadi menyeret orang yang baik terjebak pula kedalam perbuatan khianat. Menolak bagian dana korupsi ‘mbok dianggap sok suci’. Sementara bila bermudah-mudah menerima, jelas bertentangan dengan hati nurani. Sungguh simalakama jadinya.

Jangan putus asa! Berpegang teguhlah pada kejujuran dan amanah, niscaya Alloh memberi jalan keluar. Bagi yang terlanjur menikmati hasil korupsi, pun jangan putus asa! Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang tanpa dosa, tapi orang yang bertaqwa adalah orang yang bila khilaf dan salah maka dia segera bertaubat. Dan Alloh Dzat Yang Maha Menerima Taubat.

Cara Bertaubat Dari Harta Korupsi

Apapun bentuk dosanya, dengan taubat yang benar niscaya Alloh Ta’ala akan mengampuninya. Para ulama menjelaskan, secara umum syarat diterimanya taubat ada tiga hal:

  1. Berhenti dari perbuatan dosanya
  2. Menyesali dan minta ampun atas dosa tersebut, dan
  3. Berkomitmen kuat untuk tidak mengulangi

Dan untuk dosa yang terkait dengan hak sesama manusia. maka ada tambahan syarat keempat, yaitu istihlal, yakni mendapatkan maaf atas kedzalimannya, dan atau bila terkait dengan harta (seperti korupsi) maka  dengan mengganti/mengembalikan harta tersebut.

Hal ini berdalil:

Barangsiapa pernah melakukan tindak kezaliman kepada seseorang, baik dalam urusan harga dirinya, atau hal lainnya, maka segeralah ia meminta untuk dihalalkan, sebelum tiba hari yang tiada lagi dinar atau dirham. Bila hari itu telah tiba maka akan diambilkan dari pahala amal salehnya dan diberikan kepada orang yang ia zalimi sebesar tindak kezalimannya. Dan bila ia tidak memiliki pahala kebaikan, maka akan diambilkan dari dosa-dosa orang yang ia zalimi dan akan dipikulkan kepadanya.” (HR Bukhari).

Syarat yang keempat tidak terlalu sulit jika pihak yang terdzalimi  hanyalah satu orang,  dan orangnya masih hidup, serta kadar harta terukur jumlahnya. Namun, akan menjadi berbeda jika misalnya orang yang pernah ia ambil haknya sangatlah banyak (uang rakyat/perusahaan), tidak jelas siapa saja orangnya, tidak jelas apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Juga akan menjadi berat bila ternyata seluruh harta yang dimilikinya adalah berasa dari tindak korupsi.

Maka Terkait dengan hal ini para ulama (Al Qurthubi, Al Ghozali, An Nawawi)  memberikan penjelasan, yang intinya sebagai berikut :

Pertama, Orang yang seluruh hartanya berasal dari hasil korupsi, maka untuk bertaubat dia harus melepaskan diri dari seluruh harta tersebut, kecuali pakaian minimal untuk sekadar menutup aurat saat sholat dan makanan yang ia butuhkan pada hari itu. Imam al-Qurthubi menyatakan, kadar inilah yang boleh diambil dari hak milik orang lain, saat kondisi darurat.

Kedua, Jika sebagian hartanya berasal dari barang haram, dan sebagian yang lain adalah harta halal, sementara keduanya sudah bercampur baur sampai tidak dapat dibedakan, maka dia harus melepas kadar dari harta yang haram sampai dia yakin bahwa yang tersisa benar-benar halal. Kadar yang dia ragukan kehalalan juga harus dikembalikan. Jika misalnya yang dia yakini halal hanya sepertiga, maka dua pertiga hartanya harus dia kembalikan

Ketiga, harta yang dikorup dari baitul maal atau kas negara atau perusahaan maka ia mengembalikannya ke baitulmal/kas negara, atau perusahaan tersebut. Dengan catatan orang-orang yang mengelolanya bisa dipercay. Jika mereka tidak seperti itu, maka tidak boleh menyerahkan harta hasil korupsi tadi kepadanya. Alternatifnya dia mengalokasikan harta tersebut untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum, atau diserahkan kepada fakir miskin.

Keempat, dalam kasus bentuk korupsinya adalah mangkir dari pekerjaan atau tidak sungguh-sungguh dalam bekerja. Maka mestinya orang tersebut memperhitungkan berapa jam dia telah bolos. Bila jam bolos kerjanya adalah 1/5 dari jam kerja wajibnya maka dia mengeluarkan 1/5 dari jumlah gaji yang diterimanya. Dan menshodakohkannya untuk kemaslahatan kaum muslimin atau kepada fakir miskin (Tim fatwa www.islamweb.net)

Inilah cara taubat bagi koruptor, yang kami kutip dari berbagai sumber. Akhirnya, dosa adalah keniscayaan, adapun taubat adalah pilihan. Dan Beliau SAW bersabda:

Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan (dosa) dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya” (HR Tirmidzi).

Semoga Alloh Ta’ala mengampuni dosa dan kesalahan kita serta senantiasa membimbing kita menuju ke jannahnya… aamiin

 

 

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close