Ukhuwah

6 Virus Ukhuwah yang Perlu Diketahui

Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu perbuatan yang amat mulia dan sangat penting. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan persaudaraan sebagai sifat kaum mukmin dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Di dunia sebagaimana firmanNya: 

Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara (QS Al Hujurot: 10).

Di akhirat sebagaimana firmanNya:

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk ber-hadap-hadapan diatas dipan-dipan (Qs Al Hijr: 47).

Sayang bersamaan waktu  yang terus berpacu dan peradaban yang semakin maju, ikatan-ikatan sosial pun semakin pudar. Persaudaraan dan persahabatan, serasa hambar,  membosankan, dan tanpa makna. Bahkan keberadaan saudara serasa seperti onah yang menusuk badan, kehadirannya seperti datangnya musim kemarau yang mengeringkan. Ya…terkadang mata air ukhuwah seakan mengering dan kehilangan kesegarannya. 

Sungguh sangat kontras bila dibandingkan dengan keadaan generasi salaf. Suatu masyarakat yang dibangun dengan penuh kehangatan, cinta, dan ukhuwah. Setiap orang merasa dekat dengan orang lain tanpa keterpaksaan atau kepura-puraan. Umat yang mampu berpadu seperti satu tubuh.  Saling mengasihi saling menyayangi, saling menguatkan satu sama lain.

Sesungguhnya persaudaraan tidak akan memburuk dengan seketika, melainkan secara bertahap. Banjir juga dimulai dari satu tetes hujan, dan bencana berawal dari sesuatu yang ringan, kemudian membesar dan membesar. Demikian pula persaudaraan tidak akan hancur,  kecuali jika masing-masing telah mengabaikan akhlak mulia, perasaan tulus, dan norma-norma agung. Akhlak yang buruk inilah bak virus yang perlahan-lahan merusak dan menghacurkan ukhuwah.

Prasangka

Virus perusak ukhuwah yang pertama adalah dzon (prasangka). Prasangka termasuk insting manusiawi. Dengannya orang bisa survive (bertahan dan memenangkan persaingan hidup).  Pun demikian prasangka juga bisa menjadi sebab rusaknya persaudaran. Yaitu saat buruk sangka mendominasi dan kehilangan objektifitas.

Saat orang terlambat memenuhi janji, saat sikap orang menyebalkan, menyakitkan atau merugikan, mungkin kita langsung menuduhnya dengan tuduhan buruk tanpa tabayun (crosscek). Padahal bisa jadi keterlambatannya, sikap menyebalkannya adalah karena ketidaksengajaan, atau  adanya udzur  yang tidak mungkin disampakan.

Mudah memvonis atas dasar prasangka sungguh bisa jadi bencana, Alloh Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa (QS Al Hujurat: 12).

Beliaupun bersabda:

Hindarilah prasangka (buruk), kerana prasangka (buruk) adalah ucapan yang paling dusta.

Sayang hari ini umat islam justru membangun ukhuwah diatas pondasi saling curiga. Hingga ukhuwahpun gampang goyah dan mudah pecah.

Hasad

Persaudaraan melahirkan kecintaan, saling menguatkan, saling menutupi, senang saat saudara senang, susah saat saudara susah. Sementara dengki (hasad) adalah kebalikannya, yaitu munculnya perasaan benci (tidak suka) saat melihat saudaranya mendapat nikmat. Dia ingin nikmat yang ada pada saudaranya hilang.

Berbeda dengan iri yang tersimpan di hati, hasad memunculkan sikap yang buruk. Demi menghilangkan nikmat yang ada pada seseorang dia siap memfitnah, berdusta, dan mengkhianati. Hasad bahkan terkadang sampai pada keinginan untuk menghancurkan dan melenyapkan. Bahkan menumpahkan darah. Belajarlah dari kisah Habil dan Qobil. La haula wala quwwata illa billah

Tidak Santun Dalam Bicara

Lidah memang bisa lebih tajam dari pedang. Termasuk dalam hal merusak ukhuwah, lisan bisa jadi biang keroknya. Berapa banyak persaudaraan hancur karena lisan. Maka diantara hal yang harus dihindari adalah: bicara kasar dan nada yang tinggi, banyak mendebat membantah, bergurau berlebihan, memanggil dengan panggilan yang buruk, kritikan yang keras dan melukai perasaan.

Berapa banyak saudara sesama muslim mental saat mendapat nasihat, bukan karena ia menolak kebenaran, tetapi karena kemasan nasihat yang tidak santun dan cenderung manyakitkan. Menurut DR. Abdullah al-Khathir rahimahullah.

Semua orang menyukai siapa saja yang mengoreksi kesalahannya tanpa melukai perasaan.

Percaya Pada Namimah

Hadirnya an namam (tukang hasut) dalam satu komunitas tampaknya satu keniscayaan. Yaitu orang yang datang dengan membawa suatu kabar dengan maksud untuk merusak dua orang saudara atau lebih. Dia lah orang yang bermuka dua, menghadap kepada seseorang dengan suatu wajah, kemudian menghadap kepada orang lain dengan wajah yang berbeda. Orang inilah yang dikabarkan akan mendapat dua lidah dari api neraka besok pada hari kiamat.

Daya rusak an namam  sedemikian dahsyat. Hingga sebagian salaf mengatakan: An Namam lebih dahsyat dari tukang sihir. Karena an namam bisa merusak hubungan dalam waktu sekejap yang bila dilakukan oleh tukang sihir butuh waktu satu berbulan-bulan.

Maka bila ingin persaudaraan langgeng dan bermakna, seseorang harus waspada dengan an namam. Dan tidak gampang percaya terhadap hasutannya.

Rakus Dengan dunia

Tamak merusak ukhuwah? Ya…berapa banyak saudara tega mengkhianati saudaranya karena ambisinya terhadap kedudukan. Berapa banyak saudara rela mendzalimi saudaranya karena rakusnya terhadap harta. Berapa banyak orang yang mau  membantu orang kafir untuk memusuhi saudaranya demi uang, pangkat, dan jabatan. Dia putuskan jalinan ukhuwah demi dunia yang jadi ambisinya.

Dalam sekala yang ringan, berapa banyak jalinan ukhuwah menjadi gersang, hambar dan tak bermakna jika pondasinya adalah materi dunia. Jika menguntungkan dia bersahabat, jika tidak menguntungkan dia meninggalkan. Saat butuh ngaku saudara, saat berkecukupan di egois. Loyalitas dan kecintaanya hanya karena keuntungan dunia yang dijanjikan. Betapa hinanya ukhuwah semacam ini…

Acuh Terhadap Saudara

Diantara perkara yang mengantarkan kebahagian adalahsaat ia merasa diperhatikan dan didengarkan. Tidak hanya memperhatiakan dan mendengar, bahkan ia dengan tulus  siap membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi tanpa harus diminta terlebih dahulu. Dan acuh terhadap kondisi saudara adalah benih awal rusaknya persaudaraan. Cukuplah sebagai gambaran kami kutipkan syairnya Hasan bin Tsabit Radhiallohu anhu:

Sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya
Namun ketika susah hanya sedikit yang tersisa
Maka jangan terpedaya dengan kebaikan seorang sahabat
Namun ketika musibah menimpa tiada yang mengiba
Semua sahabat menyatakan dirinya setia
Namun tidak semua berbuat seperti ucapannya
Kecuali sahabat yang penuh derma dan taat agama
Itulah sahabat yang berbuat sama dengan kata-katanya

Inilah diantara virus perusak Ukhuwah, betapa indahnya persaudaraan yang dihiasi dengan kelembutan, kasih sayang, saling menasehati, saling menguatkan dan saling menutupi kekurangan. Wallohu musta’an.

 

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close